Kamis, 18 September 2014

Ridho Suami

Pada hakikatnya semua cobaan itu datangnya dari Alloh yang bisa dilewatkan melalui harta, anak, suami, tetangga pekerjaan, dan lain-lain. Adapun kalaulah cobaan itu datangnya dari suami maka tetaplah bersyukur dan sabar, kalau bisa komunikasikan pada suami mana sesuatu hal yang tidak mereka ridhoi pada kita. Kalaupun memang ada yang salah maka sudah semestinya berdua saling minta maaf dan saling memperbaiki.

Sebagai isteri kita harus menyadari bahwa para suami itu umumnya harus jungkir balik mencari nafkah untuk keluarga. Maka para isteri harus bisa menghargai pengorbanan seorang suami, menjadi isteri yang menghormati dan sholihah bagi suami.





Soal ridho suami hadistnya berbunyi begini :

"Manakala seorang isteri meninggal dibawah ridho suaminya maka si isteri tersebut akan masuk surga".(Hadist riwayat Ibnu Majah).
Hadist ini hanya menyatakan tentang isteri yang meninggal dan diridhoi suaminya, tidak membicarakan isteri yang tidak dirishoi suaminya. Namun dari cara pemahaman "terbalik" bisa diambil kesimpulan bahwa kalau isteri diridhoi suaminya dia akan masuk surga.

Betulkah isteri yang diridhoi suaminya akan masuk surga? Tentu saja betul, dengan catatan bahwa keridhoan suami yang dimaksud adalah keridhoan yang sejalan dengan keridhoan Alloh. Walaupun suami sudah menyatakan ridho pada isterinya tapi kalau kelakuan mereka tidak dalam ridho Alloh maka tentu saja hukum yang berlaku adalah hukum Alloh Yang Maha Menghakimi.

Betulkah bahwa isteri yang tidak diridhoi suaminya akan masuk neraka? Jawabannya : "Tergantung. Apakah si suami dalam ridho Alloh atau tidak?"
Seribu kali Fir'aun mengatakan bahwa dia tidak ridho pada isterinya (Asiah), ya tidak akan berdampak apa-apa bagi Asiah (istilah anak muda sekarang "tidak akan ngaruh"), karena Fir'aun sendiri tidak dalam ridho Alloh.
Artinya ketika seorang suami men-teror isterinya dengan mengatakan bahwa isterinya tidak akan masuk surga karena suami tidak ridho, mestinya dia sambil intropeksi apakah dirinyasudah dalam ridho Alloh? ; apakah dirinya dusah menunaikan kewajibannya sebagai suami yaitu barnasihat dan mengatur secara adil sesuai tuntunan Rosululloh?; apakah dirinya sudah bisa memberi keteladanan sebagai suami yang sholih?; dan lain-lain.



Beberapa minggu yang lalu ramai diberitakan dalam media massa adanya seorang mantan pejabat tinggi yang karena emosinya beliau mengeluarkan pistol dan menembakkannya beberapa kali ke udara. Beliau dilaporkan ke pihak yang berwajib. Orang-orang mencibir beliau sebagai "Sok jago, mentang-mentang punya pistol, nembak-nembak semaunya"

Sebagai suami juga tidak boleh begitu. Mentang-mentang punya kuasa, dengan gampangnya "menerakakan" isterinya. Bukankah Alloh berfirman :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu , maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu mema’afkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surah At-Taghobun ayat 14)

Bukankah ayat ini lebih menekankan agar para suami mendahulukan "memaafkan" dan "mengarahkan" isteri dan anak-anaknya ketimbang "cepat mengeluarkan keris" dengan memvonis menerakakan mereka?
Semoga kita semua termasuk keluarga yang sakinah mawadah warohmah, menjadi isteri-isteri yang sholihah, suami-suami yang sholih, dan anak-anak yang sholih-sholihah semua, amiiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar