Kamis, 24 Maret 2011

Bahterah/Perahu Nabi Nuh


Di sebuah lereng bukit yang gersang nampak sosok laki-laki tua yang sibuk membelah batang-batang kayu dengan kampaknya, ratusan papan kayu yang dikumpulkan itu dirakitnya dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Semula orang bingung melihatnya, namun pada akhirnya mereka tahu bahwa orang tua itu sedang membuat sebuah perahu besar. Dialah Nuh, seorang utusan Alloh. Dia membuat perahu atas dasar wahyu dari Alloh.
Kisah ini berawal dari lima orang sholeh yang hidup di zaman sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Setelah kelimanya meninggal, orang-orang membuat patung-patung mereka dengan tujuan untuk menghormati dan mengenang budi baik mereka. Setelah patung-patung itu diwariskan turun temurun kepada anak cucu mereka hingga sampai pada zaman Nabi Nuh, timbullah berbagai dongeng dan khurofat yang mempengaruhi pemahaman dan keyakinan manusia, mereka menganggap patung-patung itu mempunyai kekuatan gaib. Iblis telah membisiki kaum nabi Nuh bahwa berhala-berhala tersebut adalah tuhan yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Patung-patung itupun disembah.
Alloh mengutus Nabi Nuh untuk memberantas segala bentuk kemusyrikan di jaman itu. Dengan seluruh kemampuannya ia berusaha menyadarkan kaumnya untuk kembali menyembah kepada Alloh. Ia menyerukan, “Wahai kaumku, Aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Janganlah menyembah selain Alloh, takutlah padaNya dan taatlah padaku. Alloh akan mengampuni dosa-dosa kalian. Jika tidak, kalian akan mendapat siksa yang pedih.”
Demi mendengar dakwah Nabi Nuh, satu persatu mereka insaf dan menjadi pengikutnya. Namun kebanyakan mereka tergolong dari kaum lemah, fakir dan orang-orang yang menderita. Sedangkan golongan orang-orang kaya, kuat dan para penguasa meragukan dakwanya. Mereka pun tidak segan-segan menantangnya.
“Wahai Nuh, Bukankah kau juga manusia biasa seperti kami, dan pengikut-pengikutmu adalah orang-orang yang hina, orang-orang bodoh yang lekas percaya saja. Tidak ada kelebihan apa-apa yang kau miliki dibanding kami, mengapa kau mengaku menjadi utusan Alloh?”
“Kaumku, aku memanng tidak pernah mengatakan bahwa aku mempunyai kekayaan yang berlimpah, aku tidak pernah pula mengatakan bahwa aku mengetahui hal yang gaib. Aku bukan malaikat melainkan manusia biasa seperti kalian yang diutus oleh Alloh untuk menyadarkan kalian dari kemusyrikan yang telah membelenggu hati kalian. Dan aku tidak akan meminta upah sedikitpun pada kalian bagi seruanku, karena upahku hanyalah dari Alloh. Orang-orang yang kalian pandang dengan sebelah mata, kalian anggap bodoh, hina, lemah, pahala mereka tidak akan hilang karena penghinaan kalian. Alloh lebih tau terhadap apa yang ada dalam hati mereka.”
“Nuh! Hentikan ocehanmu! Sekarang tidak perlu banyak bicara, coba datangkan siksa yang kau janjikan itu jika kau memang benar!”
Ooh? Hanya Allah yang bisa mendatangkan siksa itu, tetapi ingat, kalau Allah sudah mendatangkan siksanya, tidak ada satupun di antara kalian yang dapat menghindar, kalian semua akan binasa!”
Perdebatannya dengan orang kafir semakin panjang, argumen-argumen merekapun bisa dipatahkan. Karena kesalnya, mereka mulai berani mengejek Nabi Allah,”Nuh! Kaulah yang tersesat diantara kami. Kau pendusta! Dan kau telah gila!”
“Wahai kaumku, tidak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari tuhan semesta alam. Aku sampaikan amanat-amanat tuhanku dan aku memberi nasehat kepada kalian. Aku mengetahui dari Allah apa-apa yang tidak kalian ketahui­­­­­­.
Selama 950 tahun, Nabi Nuh terus berdakwah. Setiap kali mengajak kaumnya untuk menyembah kepada Alloh, mereka lari, ada pula menutupi telinga begitu mendengar dakwahnya. Jumlah pengikut Nabi Nuh tidak bertambah, sedangkan jumlah orang kafir semakin banyak. Nabi Nuh sangat sedih namun ia tidak putus asa untuk mengajak kaumnya kembali menyembah kepada Allah. Hingga suatu ketika Nabi Nuh mengadukan kesedihannya kepada Allah. Allah mengerti perasaan Nabi Nuh, ia telah berjuang selama 950 tahun untuk berdakwah. Kini, tibalah saatnya Allah mendatangkan perkaranya untuk menolong orang-orang yang beriman dan membinasakan orang kafir. Nabi Nuh pun berdoa kepada Allah.
“Ya Allah, jangan Engkau biarkan seorangpun diantara orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu. Dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat dan kafir.“
Doa Nabi Nuh dikabulkan oleh Allah, diperintahkan kepada Nabi Nuh supaya membuat perahu dengan pengawasan dan wahyu dari Allah.
Tanpa mengenal lelah Nabi Nuh bekerja siang malam membangun perahu, sementara cuaca atau udara saat itu sangat kering dan tidak ada sungai atau laut yang dekat, sehingga hal ini membuat setiap orang yang melihat pekerjaan Nabi Nuh terheran-heran. Lebih-lebih kaum kafir beserta pembesar mereka.Tiada kata yang terucap dari mulut mereka selain celaan dan hinaan. Lebih menyedihkan lagi istri Nabi nuh juga termasuk golongan mereka.
“Bagaimana perahu ini bisa berlayar, Nuh?”
“Apakah dia akan berlayar diatas tanah?”
“Hahaha....sungguh Nuh telah gila!”
Dengan sabar Nabi Nuh menjawab ejekan mereka, ”Jika kalian mengejek kami, Kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian telah mengejek kami. Kelak kalian akan mengetahui siapa yang akan ditimpa siksa yang kekal dan menghinakan.”
Setelah 40 tahun, selesailah perahu yang dibuat Nabi Nuh. Panjangnya 300 hasta (+600 meter), tinggi 30 hasta (+ 60 meter) dan seluruh bagian perahu tersidi dari 313 lembar papan kayu. Perahu itu mempunyai tiga dek untuk para penumpangnya. Dek paling bawah untuk mengangkut segala jenis binatang, dek tengah untuk orang-orang iman dan dek ketiga untuk mengangkut segala jenis burung. Kini Nabi Nuh tinggal menunggu perintah dari Alloh selanjutnya. Alloh mewahyukan bahwa jika tannur (dapur-dapur untuk manggang roti) sudah memancarkan air, maka itu nerupakan perintah bagi Nabi Nuh untuk segera bertindak.
Beberapa hari kemudian tannur itu mulai menunjukkan tanda-tandanya, air terpancar dengan deras. Nabi Nuh segera membuka pintu perahunya dan mengajak orang-orang iman untuk menaikinya.
“Naiklah kalian ke dalam perahu dengan menyebut nama Alloh diwaktu berlayar dan berlabuhnya.”
Orang-orang iman segera menaiki perahu, tidak ketinggalan pula burung-burung dan binatang-binatang berpasangan. Kekuatan Alloh telah menggiring burung-burung dan binatang-binatang berbondong-bondong menuju perahu Nabi Nuh dan menempati tempat mereka masing-masing. Sementara sebagian besar kaum yang kafir termasuk istri Nabi Nuh dengan sombong menolak menaiki perahu tersebut, sehingga kaumnya yang beriman dan ikut serta dalam perahu itu hanya berjumlah delapan puluh orang.
Air mulai keluar dengan deras dari celah-celah bumi. Mula-mula hanya sebatas telapak kaki. Keadaan ini tidak menyadarkan kaum kafir, mereka malah sibuk menyelamatkan hartanya masing-masing. Nabi Nuh menutup perahunya. Sementara dari langit turun hujan yang sangat deras yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi ini. Nabi Nuh bersama orang-orang iman didalam perahu hanya bisa pasrah kepada Alloh menunggu detik-detik tenggelamnya bumi. Orang-orang kafir mulai kelabakan mencari tempat perlindungan dari air bah, sebagian tewas terseret arus. Atap-atap rumah tidak dapat lagi dijadikan tempat berlindung karena permukaan air semakin tinggi, bahkan pucuk-pucuk daun di pohon yang tinggi mulai terjilat air.
Saat perahu mulai berlayar, nampak Kan’an, anak Nabi Nuh, berenang menuju puncak sebuah gunung yang belum terjamah air. Naluri kasih sayang seorang ayah membuat Nabi Nuh berusaha keras membujuk dan merayu anaknya agar mau naik perahu bersamanya.
“Kan’an anakku! Naiklah ke perahu bersama kami! Janganlah kau mati bersama-sama orang yang kafir!”
“Tidak Ayah! Aku akan selamat berada di puncak gunung itu”
“Kan’aaan....dengarkan Ayah! Tak ada satu pun yang dapat melindungimu dari keadaan ini selain Alloh”
Belum selesai pembicaraan antara ayah dan anaknya, tiba-tiba datang gelombang besar yang menjadi penghalang antara keduanya. Kan’an hilang dari pandangan Nabi Nuh. Nabi Nuh berusaha mencari namun ia tidak menemukan selain ombak yang semakin tinggi. Nabi Nuh sedih, ia telah kehilangan anak yang dicintainya. Seluruh permukaan bumi telah tenggelam. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 Rajab.
Perahu mengapung diatas permukaan air yang tak kunjung surut. Hingga akhirnya pada tanggal 10 Muharrom datanglah perintah Alloh.
“Hai, bumi telanlah airmu dan hai hujan dari langit berhentilah...”
Perintah Alloh itu telah mengakhiri petualangan Nabi Nuh bersama pengikutnya yang telah terapung-apung di dalam perahu selama enam bulan. Lenyaplah peristiwa yang mengerikan itu seiring dengan menyurutnya air ke celah-celah bumi. Hati Nabi Nuh masih gulau akan kematian anaknya, Kan’an, ia bertanya-tanya kenapa Alloh tidak menyelamatkan anaknya. Ia tidak tahu bahwa Kan’an menyembunyikan kekafirannya di hadapan Nabi Nuh. Hingga terucap, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”
Alloh pun menjelaskan kepada Nabi Nuh, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk kelauargamu yang dijanjikan akan diselamatkan. Sesungguhnya perbuatannya tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakekatnya. Aku peringatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”
Nabi Nuh tersadar dan memohon ampun kepada Alloh atas kekhilafannya. Sementara perahu terdampar di daratan Armenia, seluruh penumpang turun dan memanjatkan sukur kepada Alloh yang telah menyelamatkan jiwa dan keimanan mereka.

Kisah Ketabahan dan Kesabaran Nabi Ayyub


Nabi Ayyub adalah seorang bangsa Rum, beliau putra ‘Aish bin Ishak, seorang Nabi, ibunya salah seorang putri Nabi Luth. Beliau termasuk salah seorang laki-laki yang memiliki otak cerdas dan jenius. Beliau rajin, berbudi luhur lagi bijaksana. Ayahnya adalah seorang yang memiliki kekayaan, memiliki sejumlah besar hewan ternak, onta, lembu, domba, kuda, keledai dan khimar. Tiada seorang pun yang membandingi kekayaannya di negri Syam di masa itu. Setelah wafat, harta benda di wariskan semua kepada Nabi Ayyub. Beliau menikah dengan Dewi Rahmah putri Afrayim anak laki-lakinya Nabi Yusuf. Dari pernikahan mereka Alloh menganugrahi 12 kali mengandung, setiap lahir 2 orang anak, masing-masing putra dan putri.
Nabi Ayyub di utus oleh Alloh kepada kaumnya, yakni kaum Huran dan Tih, beliau berbudi baik dan halus, sepanjang hidupnya tiada seorang pun yang menyalahi dengan dusta dan ingkar, berkat kehormatan yang diberikan oleh Alloh kepadanya dan ibu bapaknya. Beliau suka mendirikan masjid-masjid dan menyampaikan syari’at-syari’at agama Alloh. Beliau suka menyantuni anak-anak yatim bagaikan seorang bapak yang penuh kasih sayang, terhadap para janda bagaikan seorang suami, demikian pula terhadap rakyat kecil yang lemah bagaikan saudara kandung penuh cinta kasih. Para pembantu yang mengurus tanaman dan buah-buahan di kebun dan sawahnya, dipesankan kepada mereka supaya membiarkan bagi siapa saja yang yang ingin memetiknya.
Dalam hal peternakan, setiap tahun terus meningkat, bahkan setiap hewan mempunayi anak kembar-kembar, sekalipun demikian semua harta kekayaan tidak mempengaruhinya sedikitpun, beliau pandai mensyukuri nikmat pemberian Alloh, baik dalam hati maupun dicetuskan lewat lesannya, bahkan beliau selalu memanjatkan do’a kepada Alloh, “Ya Alloh, ini semua adalah pemberian-Mu kepada semua hambamu di lokasi penjara dunia, sangat jauh dibandingkan dengan pemberian-Mu di sorga bagi ahli karomah-Mu di negri penuh hidangan-Mu”.
Itulah pangkal penyebab timbulnya iri, drengki makhluk Alloh tiada berbudi sebangsa Iblis. Iblis tidak terima dengan keberhasilan Nabi Ayyub, suatu hari ia berkata, “Ayyub benar-benar sukses usahanya, baik urusan dunia maupun akhirot. Untuk itu, ia harus dirusak salah satu atau kedua-duanya”.
Pada masa itu, Iblis dapat naik ke langit tingkat tujuh, ia bebas parkir di tempat mana saja sesukanya. Pada suatu hari ia naik seperti biasanya, dan ditanya oleh Alloh,
“Hai makhluk terkutuk, tidakkah melihat hambaKu yang telah sukses dalam usahanya? Mampukah kamu mencontoh barang sedikit saja?”.
“Ya Tuhan, benar saja Ayyub tekun beribadah kepadaMu, sebab ia diberi kelapangan rizki dan kesehatan jasmani, seandainya tidak demikian, pasti ia pun enggan beribadah kepada-Mu, ia seorang hamba yang penuh dengan kecukupan”. Jawab Iblis.
“Bohong kamu, sebab Aku tahu pasti bahwa ia benar-benar beribadah dan bersyukur kepadaKu, sekalipun tiada kelapangan rizki baginya”.
“Ya Tuhan.... kalau begitu, aku ingin mengujinya, sampai sejauh mana ia tidak lupa berdzikir dan beribadah kepadaMu, untuk itu berilah aku kemampuan untuk menguasai dirinya!”. sahut Iblis.
Setelah terjadi perdebatan yang panjang, akhirnya Alloh memenuhi tuntutan Iblis terkutuk, dengan catatan tidak pada jiwa dan lesan Nabi Ayyub.
Sekembalinya dari langit, Iblis menelusuri pantai laut, ia berteriak sekerasnya memanggil bangsa jin. Dengan waktu yang tidak lama semua bangsa jin pun segera berhimpun, tiada seorang pun yang tersisa, baik pria maupun wanita, semuanya mendekat di sisi Iblis, kemudian bertanya,
“Apa yang menimpa tuan besar?”.
“Kini aku memperoleh proyek besar, yang belum pernah diperoleh sejak aku sukses menggulingkan Adam dari surga, yaitu memperdaya Ayyub, untuk itu marilah kita kerjakan bersama-sama”.
Tanpa banyak pertanyaan, semua bangsa jin dengan caranya masing-masing mulai bergerak memperdaya Nabi Ayyub. Mereka mengerahkan seluruh pasukan yang ada, dan mengatur strategi. Rumah-rumah, taman-taman, kebun-kebun dan sawah-sawah semua mereka hancurkan, sehingga semua harta kekayaan Nabi Ayyub habis dimusnahkan Iblis dan bala tentaranya.
Setelah berhasil menghancurkan semua harta kekayaan Nabi Ayyub, Iblis menghampiri Nabi Ayyub yang sedang sholat di masjid dan berkata,
“Hai Ayyub, kenapa engkau tenang-tenang beribadah kepada Alloh, padahal engkau dalam keadaan terancam bahaya. Tuhanmu telah mengirim api dari langit yang membumi hanguskan seluruh harta kekayaanmu”.
Nabi Ayyub tidak menjawab sepatah kata pun pada omongan Iblis, bahkan beliau memanjatkan doa kepada Alloh setelah sholat selesai, “Segala Puji bagi Alloh yang telah memberi harta kekayaan kepadaku, kemudian sekarang sudah saatnya Dia menarik kembali dari tanganku”. Setelah berdoa kemudian beliau meneruskan lagi sholatnya.
Melihat keadaan seperti itu, Iblis merasa usahanya tidak berhasil dan ia pulang dengan penuh kecewa, bahkan merasa terhina dan menyesal akibat tindakan Nabi Ayyub.
Adalah Nabi Ayyub punya 14 orang anak, tujuh diantaranya putra, dan tujuh putri. Setiap hari makan siang di rumah saudaranya, saat itu berkumpul di rumah saudara mereka tertua (yakni Harmula), dan pasukan syetan pun menyekap mereka dan melempari, hingga meninggal dunia semua dalam satu meja makan, diantara mereka ada yang tengah menyuap makanan dan ada pula yang memegang gelas minuman. Lagi-lagi Iblis menghampiri Nabi Ayyub, yang tengah shalat. Sahut Iblis,
“Hai Ayyub, kenapa engkau tetap tekun beribadah pada Allah, padahal Allah telah merobohkan rumahmu dan menimpa anak-anakmu, hingga binasa seluruhnya?”.
Namun Ayyub tidak menjawab sedikitpun, bahkan ia menyempurnakan shalatnya. Setelah selesai sholat beliau berdoa,
“Segala puji bagi Allah Yang telah memberiku, dan menarik kembali dariku”. Setelah berdoa Nabi Ayyub menambahkan, “Hai Iblis makhluk terkutuk, ketahuilah bahwa seluruh harta dan anak-anak adalah fitnah, ujian bagi pria maupun wanita, dan semua telah ditarik kembali oleh Allah dari tanganku, hingga aku mampu bersabar dan tetap tekun beribadah kepada Tuhanku”. Kembali Iblis pulang dengan penuh kecewa, merugi serta terkutuk.
Namun Iblis tidak berputus asa, ia terus mengejar Nabi Ayyub, lagi-lagi ia datang sewaktu Nabi Ayyub tengah melakukan shalat, bertepatan Ayyub melakukan sujud, Iblis meniup hidung dan mulut, maka mengembunglah tubuh Ayyub dan banyak berpeluh, hingga badan terasa berat. Melihat keadaan itu Rahmah istrinya mencoba menghibur dan mengingatkan Nabi Ayyub,
“Derita sakitmu ini adalah akibat kesedihanmu memikirkan hartamu yang musnah dan bencana yang menimpa anak-anakmu, sedang kamu beribadah terus menerus di malam hari, siangnya berpuasa, tak kenal istirahat barang sesaat pun, lagi pula tak suka berhibur”.
Selang beberapa hari kemudian NabiAyyub diserang penyakit cacar seluruh tubuhnya, mulai kepala sampai kaki, darah dan nanah mengalir dari tubuhnya, dan ulat-ulat pun berjatuhan, akibatnya seluruh famili dan kawan-kawan menyatakan cerai dan menghindarinya. Demikian pula dua dari ketiga orang istrinya menuntut cerai secara resmi, kecuali dewi Rahmah seorang istrinya yang setia melayani siang dan malam hari.
Tidak terbatas sampai di sini penderitaan Nabi Ayyub, kaum hawa tetangganya menuntut Nabi Ayyub supaya angkat kaki dari kampungnya, lewat istrinya, mereka berkata,
“Hai Rahmah, kami sangat khawatir kalau nanti penyakit suamimu menular pada anak-anak kami, seharusnya ia disingkirkan saja dari kampung kami, kalau tidak, kami akan memaksamu keluar”.
Mendengar perkataan tetangganya, Dewi Rahmah pun segera keluar, pakaiannya dibungkus, lalu dibawa pergi sambil berteriak keras, “Aduh, demikian berat penderitaan ini, kami harus mengembara dan berpisah, mereka telah mengusir dari kampung dan rumah kami”.
Nabi Ayyub di gendong pada punggungnya, diiringi isakan tangis istrinya, ia dibawa kesebuah lokasi bekasrumah yang sudah rusak, tempat pembuangan sampah dan disanalah ia ditaruh. Baru beberapa hari bertempat di situ, masyarakat sekitar melihat demikian itu kontan mengusirnya juga, dan mereka tidak segan-segan mengerahkan anjing-anjingnya untuk memaksa Nabi Ayyub dan istrinya keluar dari lokasi tersebut. Dengan terpaksa dan diiringi isakan tangis Dewi Rahmah pun membawa pergi Nabi Ayyub menuju suatu tempat yang jauh dari kampung. Sesampainya disana Dewi Rahmah membuat sebuah gubug dari kayu dan disitulah Nabi Ayyub di rawat. Keesokan harinya Dewi Rahmah pergi dan datang dengan membawa alas tidur sebangsa tikar serta batu sebagai bantalnya. Untuk mengambil air minum, Dewi Rahmah membawakan wadah air yang biasa dipakai oleh para penggembala memberi minum ternak-ternaknya.
Suatu hari Dewi Rahmah berniat ingin menuju suatu dusun terdekat untuk mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang dan untuk dibelikan sesuap nasi, tapi Nabi Ayyub memanggilnya, “Hai Rahmah, kembalilah.. aku menasehatimu, jika kamu hendak pergi menjauh dariku aku akan kamu biarkan sendirian di tempat ini”.
“Janganlah tuanku khawatir, sebab tidak mungkin aku membiarkanmu seorang diri, selama hayat dikandung badanku”. Jawab Rahmah dengan lembut.
Akhirnya Dewi Rahmah berangkat menuju suatu dusun, dan diterima sebagai karyawan pada suatu perushaan roti. Ia bekerja setiap hari pada perusahaan roti berangkat pagi pulang sore untuk memberi makan Nabi Ayyub. Lama kelamaan masyarakat dusun itu mengerti bahwa ia adalah istri Nabi Ayyub, mereka pun berhenti tidak suka memberi makan padanya sambil mengatakan,
“Menjauhlah dari kami...sebab kini kami merasa jijik padamu”.
Sambil menangis, Dewi Rahmah memohon kepada Alloh,
“Ya Alloh...Engkau melihat keadaanku ini, seolah-olah dunia ini berubah menjadi sempit bagi kami, semua orang selalu menghina dan mengejek kami, namun kami berharap janganlah Engkau menghina kami kelak di akherat. Ya Alloh...mereka telah mengusir dari rumah kami di dunia, namun kami berharap janganlah Engkau mengusir kami dari rumahMu kelak di akhirat”.
Kemudian ia pun berangkat untuk menemui wanita istri perusahaan roti itu, sesampainya disana, ia mengutarakan keinginannya pada wanita itu,
“Sungguh, suamiku saat ini tengah lapar, untuk itu perkenankanlah aku meminjam roti kepadamu”.
“Menjauhlah dariku secepatnya supaya suamiku tidak melihatmu, untuk bisa mendapatkan roti, kamu supaya menyerahkan gelungan rambutmu kepadaku”. Jawab wanita itu.
Dewi Rahmah memiliki 12 buah gelungan melembreh ke tanah, indah dan bagus serupa dengan yang ditemukan oleh Nabi Yusuf pada Siti Zulaikhoh.
Wanita istri perusahaan roti pun datang dengan gunting untuk memotong gelungan rambut Dewi Rahmah, kemudian di tukarkan dengan empat potong roti.
Dewi Rahmah merasa bersalah dengan tindakannya itu, dalam hatinya mengatakan... “Ya Alloh, tindakanku ini semata-mata berbakti kepada suamiku untuk memberi makan nabiMu dengan menjual gelunganku”.
Setelah tiba di rumah, Nabi Ayyub melihat roti segar di tangan istrinya, beliau pun menaruh perhatian dan menyangka jangan-jangan istrinya telah menjual dirinya, “Hai istriku, kamu bisa membeli beberapa potong roti dapat uang darimana?”, Demi Alloh, jika Alloh memberiku kesembuhan, aku akan memukul dirimu sebanyak 100 kali”.
Dewi Rahmah tidak menjawab dengan kata-kata, ia membuka kerudungnya dan memperlihatkan pada Nabi Ayyub, rambutnya habis dijual untuk membeli makanan.
Sambil meneteskan air mata Nabi Ayyub mengadu kepada Alloh,
“Ya Alloh, telah lenyap upayaku hingga mencapai suatu masalah bahwa seorang istri nabiMu telah menukarkan rambutnya untuk membelanjai diriku”.
Sambil memotong roti dan menyuapi Nabi Ayyub, Dewi Rahmah sedikit menghibur pada suaminya, “Hai suamiku, kini janganlah bersedih, sebab rambutku dapat tumbuh lebih bagus daripada yang semula”.
Sekujur tubuh Nabi Ayyub penuh dengan penyakit, sampai banyak ulat-ulat yang memakan dirinya, setiap ulat jatuh dari tubuhnya, beliau pun mengambil dan mengembalikannya ketempat semula pada dirinya sambil mengatakan, “Makanlah pada apa-apa yang telah di rizkikan oleh Alloh kepadamu”.
Daging pada tubuhnya sudah pada habis dimakan ulat-ulat itu, sehingga kelihatan tulang-tulang, urat dan sarafnya. Ketika matahari terbit menyinari, tembuslah sinarnya dari tubuh bagian depan sampai punggungnya. Yang tersisa hanyalah hati dan lesan, sebab hatinya tidak pernah sepi selalu bersyukur kepada Alloh dan lesannya pun selalu berdzikir kepada Alloh. Keadaan sakit seperti itu beliau terima dengan sabar dan tawakal serta tidak mengeluh sedikitpun selama 18 tahun.
Pada suatu hari Dewi Rahmah berkata kepada Nabi Ayyub,
“Engkau seorang Nabi yang terhormat di sisi Tuhanmu, alangkah baiknya jika engkau memohon kepada Alloh agar menyembuhkan penyakitmu..”.
“Sudah berapa tahun masa senang kita..?” tanya Nabi Ayyub
“Sudah 80 tahun”. Jawab istrinya
“Sungguh malu rasanya jika aku berdo’a kepada Alloh, mengingat cobaan yang telah menimpa diriku belum seberapa dibandingkan dengan kesehatan dan kesenangan yang selama ini aku rakasakan”. Sahut Ayyub.
Waktu terus bergulir, sakit yang diderita Nabi Ayyub tidak semakin membaik, dan ketika tiada lagi daging pada tubuhnya yang layak dimakan, maka ulat-ulat pun saling memakan pada sesamanya, hanya tersisa dua ekor ulat yang selalu mencari sisa-sisa daging pada tubuh Nabi Ayyub dan tidak menjumpai daging sedikit pun. Salah seekor ulat yang sampai ke hati dan memakannya, sedangkan seekor lainnya sampai ke lesan dan mengigitnya pula.
Pada saat itulah Nabi Ayyub berdo’a kepada Alloh,
“Ya Alloh, sesungguhnya aku telah mendapat cobaan yang berat, dan sesungguhnya Engkau maha Pengasih dari segala pengasih”.
Do’anya Nabi Ayyub bukan berarti keluh kesah dan bukan berarti pula menyimpang dari golongan orang-orang yang bersabar. Kesedihan Nabi Ayyub bukan akibat harta dan anak-anaknya yang musnah binasa, namun rasa takut terhenti dari bersyukur dan berdzikir kepada Alloh. Dan seolah-olah beliau berdo’a, “Ya Alloh, sabarkanlah hatiku dalam menerima segala ujian dariMu sepanjang hati terus mencintaiMu dan lesan berdzikir kepadaMu, jika keduanya telah lenyap dariku, berarti terhentilah cintaku dan dzikirku kepadamu dan aku bukan tergolong orang yang bersabar”.
Kemudian Alloh menjawab,
“Hai Ayyub, kamu tidak usah bersedih sebab lesan, hati, ulat, sakit semua adalah milikku. Sungguh 70 orang Nabi telah menuntut ujian macam ini dariku, namun engkaulah yang Kupilih, untuk menambah kemulyaanmu disisiku. Dan ini bagimu hanyalah cobaan bentuk lahir saja”.
Kesedihan Ayyub saat hati dan lesannya digerogoti ulat, sebab ia senantiasa tafakkur dan berdzikir pada Allah. Akhirnya kedua ekor ulat itu pun dijatuhkan oleh Allah dari tubuhnya, seekor menjadi lintah di air yang dapat dibuat menyembuhkan orang sakit, sedang seekor lagi jatuh di darat berubah menjadi lebah yang juga madunya dibuat obat bagi manusia.
Kemudian Jibril datang dengan membawa dua buah delima surga, begitu melihat Jibril datang Nabi Ayyub langsung bertanya,
“ Hai Jibril, masih ingatkah Alloh kepadaku?”
“Tentu, bahkan Alloh kirim salam kepadamu dan menyuruh supaya engaku makan dua delima ini, nanti penyakitmu bisa sembuh, daging dan tulangmu bisa pulih kembali”. Jawab Jibril
Sesudah makan bua delima, Jibril berseru, “Hai Nabi Ayyub. Berdirilah dengan izin Alloh.”
Setelah Nabi Ayyub berdiri dengan tegak, Alloh memerintahkan kepada Nabi Ayyub, “Hai Ayyub, pukullah bumi dengan kakimu”.
Nabi Ayyub menuruti perintahnya Alloh, beliau memukul bumi dengan kaki kanannya, seketika itu keluarlah air hangat dari dalam tanah kemudian beliau mandi dengan air tersebut. Berikutnya beliau memukul bumi dengan kaki kirinya, seketika itu keluarlah air dingin yang dapat diminum olehnya. Dengan keajaiban Tuhan, segalah penyakit yang diderita Nabi Ayyub lenyap, tubuhnya menjadi lebih bagus dari yang semula, mukanya bersinar melebihi cahaya bulan.
Firman Alloh,
Lalu Kami perkenankan do’anya dan Kami lenyapkan penyakit berbahaya pada dirinya, dan Kami datangkan kepadanya seluruh keluarganya semisal mereka, sebagai rahmat dari sisi Kami dan sebagai peringatan bagi orang-orang yang beribadah”.
Semua anak-anak Nabi Ayyub meninggal dunia, setelah beliau sembuh dari sakitnya, Alloh menghidupkan anaknya dan menambah anak semisal dengan jumlah anaknya yang meninggal, yaitu tujuh orang laki-laki dan 7 orang perempuan sehingga jumlah seluruhnya menjadi 28 orang.
Kini Nabi Ayyub bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Setelah itu Nabi Ayyub mengambil dahan ranting kecil sebanyak seratus batang, lalu diikat menjadi satu. Dewi Rahmah dipukulnya sekali untuk menghilangkan sumpahnya ketika marah kepada istrinya beberapa waktu lalu. Selanjutnya mereka hidup bahagia serta menurunkan Nabi-nabi dibelakang hari.
Demikian kisah ketabahan seorang Nabi yang menderita penyakit koreng di sekujur tubuh selama 18 tahun. Ini sebagai contoh bagi orang-orang yang beribadah, supaya mereka tahu bahwa setiap orang yang menetapi barang haq pasti mendapat cobaan, dan supaya tahu tentang ujian terberat adalah bagi para Nabi, kemudian para kekasih Alloh, selanjutnya orang-orang yang semisal mereka. Untuk itu, petiklah dari mereka, baik dalam hal amaliyah ataupun sikapnya yang penuh kesabaran. Dengan ini pula dapat diketahui bahwa, “JALAN MENUJU ALLOH/KE AMALIYAH YANG BAIK ADALAH LEBIH DEKAT DIBANDING PEMBERIAN YANG BAIK”.
********
Sumber HR “Durotun Nasihin”

Kedurhakaan QORUN


Negeri Mesir yang terkenal subur dan makmur dengan tingkat peradaban yang tinggi itu ternyata telah di kotori oleh perilaku dan keyakinan penduduknya yang menyimpang dari ajaran tauhid. Tuhan yang semestinya mereka sembah adalah Alloh, tetapi ternyata mereka telah menjadikan Fir’aun sang raja Mesir sebagai sesembahan mereka.
Alloh telah mengutus Nabi Musa untuk memerangi dan memberantas kemusyrikan di muka bumi. Perjuangan Nabi Musa menegakan panji-panji tauhid di tengah-tengah masyarakat Bani Israilyang terkenal ‘rewel’’ dan suka beralasan memang cukup berat. Namun Nabi Musa tidak putus asa. Satu demi satu pengikut Nabi Musa bertambah, sampai suatu ketika seorang kaya raya terpandang di kalangan Bani Israil juga menjadi pengikut Nabi Musa. Dia adalah Qorun anak paman Nabi Musa . Dengan insafnya Qorun diharapkan dapat memperkuat dan mendukung perjuangan Nabi Musa bersama para pengikutnya.Namun yang diharapkan hanyalah impian belaka . Kekayan Qorun luar biasa, hingga kunci–kunci gedung tempat penyimpanan kekayaan tidak akan kuat dipukul oleh beberapa laki-laki yang kuat sekalipun. Ironisnya kekayaan itu telah membuat Qorun bersikap angkuh sehingga sulit baginya untuk menerima nasehat. Dalam dirinya terjadi perubahan kearah penurunan keimanan, hilang sifat –sifat orang iman dalam dirinya, hilang kekhusyu’an hatinya. Ia mulai malas beribadah, sehari-hari yang dipikirkan hanyalah menimbun keduniaan.
Jika Qorun keluar selalu dihiasi dengan pesona dunia yang gemerlapan. Dengan menunggang seekor kuda yang pelananya terbuat dari kulit bertahtahkan emas dan perak. Baju yang ia kenakan emas berlian, sungguh ia sangat gagah. Pemandangan seperti itu sangat memukau bagi orang-orang yang mencintai dunia, tetapi bagi orang-orang yang lebih mencintai akhirot akan memandang bahwa kekayaan Qorun tidak berarti sedikitpun di sisi Alloh.
Hingga pada suatu ketika, Alloh menurunkan ayat tentang zakat kepada Nabi Musa. Saat itu Qorun berniat menemui Nabi Musa untuk minta penjelasan tentang ayat tersebut. Akhirnya Nabi Musa menjelaskan perincian-perincian zakat di hadapan Qorun.
“Setiap 1000 dinar zakatnya 1 dinar, setiap 1000 dirham zakatnya 1 dirham, setiap 1000 kambing zakatnya 1 kambing, begitulah seharusnya terhadap harta yang engkau miliki.”
“Baiklah Musa, sekarang aku sudah mengerti masalah zakat, tapi aku akan mencoba menghitung dulu hartaku, Terima kasih, aku pamit dulu.”
Qorun mulai menghitung hartanya. Setelah dihitung-hitung, ternyata jumlah zakat yang harus dikeluarkan banyak sekali sehingga Qorun merasa berat untuk menyerahkan zakatnya kepada Nabi Musa.
“Wah, ternyata aku harus mengeluarkan ribuan dinar dan dirham, kalau begini caranya aku bisa bangkrut! Musa harus memberi penjelasan. Ini tidak bisa diteruskan.”
Qorun berfikir keras untuk dapat menjatuhkan wibawa Nabi Musa di depan pengikutnya. Secara diam-diam Qorun mengundang pembesar-pembesar Bani Israil ke rumahnya. Mereka dihasut untuk diajak bersama-sama menjatuhkan Nabi Musa.
“Wahai orang Bani Israil, sesungguhnya Musa telah memerintahkan pada kalian berbagai peraturan agama diantaranya ialah kalian diperintahkan untuk membayar zakat padanya. Tahukah kalian bahwa ini taktik Musa untuk merampas harta kalian semua. Kemudian harta zakat itu akan dipergunakan untuk kebutuhan sehari-harinya, berfoya-foya, cari hiburan dan lain-lain, ini adalah pemerasan secara halus dan terang-terangan, apa kalian tidak sadar kalau kalian dijadikan sapi perahan Musa? Bagaimana menurut kalian?”
“Hai Qorun, engkau adalah pembesar kami, rasanya benar omonganmu itu, sekarang perintahkan sesuatu kepada kami, kami pasti akan melaksanakan.”
“Kalau begitu carilah seorang pelacur, nanti kita beri upah asalkan dia mau mengaku di depan umum bahwa dia telah berzina dengan Musa.”
Maka berangkatlah utusan Qorun untuk mencari wanita pelacur dan dibawa kehadap Qorun.
“Hai wanita pelacur, maukah kau kuberi uang 1000 dinar dan 1000 dirham? Kemudian aku akan memberimu kedudukan dan aku kumpulkan kau dengan istri-istriku?”
Dengan senang hati si pelacur menjawab, “Tentu! Aku sangat senang menerimanya.”
“Tetapi tidak begitu saja kau mendapatkannya. Ada syarat yang harus kau lakukan. Besok, kau harus mengaku di depan umum bahwa kau telah berbuat zina dengan Nabi Musa. Sanggup?”
“Pasti sanggup. Kenapa tidak?”
KEESOKAN harinya Qorun mengumpukan orang-orang Bani Israil di lapangan yang luas, kemudian Qorun datang pada Nabi Musa dan berkata “Wahai Nabi Musa. Saat ini orang-orang Bani Israil sedang menunggumu untuk menerima nasehat dan pengarahan tentang peraturan Alloh.”
Nabi Musa pun bergegas menuju lapangan dan berseru, “Wahai Bani Israil! Barang siapa yang mencuri maka ia akan dipotong tangannya, barang siapa yang menuduh berzina tanpa mendatangkan saksi, hukumannya dicambuk 80 kali, bila ada bujangan atau gadis berzina masing-masing dicambuk 100 kali, bagi yang pernah menikah diranjam dengan batu sampai mati bila berbuat zina.”
“Hai Musa ! Bagaimana bila yang berbuat zina itu engkau sendiri? Apakah diranjam juga?” tanya Qorun.
“Walaupun aku sendiri yang berbuat zina tetap harus diranjam.”
“Hai Musa, ketauhilah! Orang-orang Bani Israil telah mengetahui perbuatanmu, ternyata engkau telah berbuat zina dengan seorang pelacur.”
“Jangan menuduhku sembanrangan! Panggil perempuan itu kemari.”
Qorun memanggil perempuan itu, ”Hei kau. Majulah ke depan!” Perempuan itu maju kedepan. “Musa, ini dia orangnya”
Musa menatap perempuan itu dengan tajam, ”Hai perempuan, demi Dzat yang telah menurunkan Taurot, aku bertanya kepadamu dan kamu harus menjawab dengan jujur. Apakah engkau telah berbuat zina denganku?”
Hati wanita pelacur itu bergetar mendengar perkataan Nabi Musa. Ia tak kuasa berbohong. Alloh telah membuka hatinya sehingga ia kembali dapat berfikir dengan akal sehatnya, dalam hati ia berkata,”Aku telah mempunyai niat buruk terhadap seorang utusan Alloh demi mendapatkan kesenangan dunia. Jika aku menyesali perbuatanku ini dan aku bertaubat kepada Alloh, aku yakin Alloh pasti akan mengampuniku”
“Demi Alloh, aku tidak berbuat zina dengan Nabi Musa! Tetapi Qorunlah yang telah membayarku untuk berbuat seperti ini”. Sontak Qorun dan pengikutnya terkejut.
Demi mendengar penuturan si pelacur Nabi Musa bersujud dan menangis kepada Alloh. Nabi Musa terharu dengan upadayanya Alloh terhadap orang-orang yang berniat menjatuhkannya. “Ya Alloh, kalau memang aku benar-benar utusanMu maka murkalah Engkau. Karena diriku telah dipermalukan oleh Qorun. Qorun yang selama ini kusaksikan baik ternyata telah menghianatiku”
Kemudian Alloh menurunkan wahyu kepada Nabi Musa yaitu Alloh memerintahkan bumi supaya taat dengan perintah Nabi Musa. Nabi Musa berkata,”Wahai orang-orang Bani Israil! Sesungguhnya Alloh mengutusku terhadap Qorun seperti Alloh mengutusku terhadap Fir’aun. Maka barang siapa yang ingin bersama Qorun tetaplah bersamanya. Dan barang siapa yang ingin tetap bersamaku jauhilah dia!”
Akhirnya semua orang menjauhi Qorun kecuali dua orang. Saat itulah Nabi Musa membuktikan bahwa bumi memang diperintahkan oleh Alloh untuk taat pada perintahnya. “Wahai bumi! Telanlah Qorun bersama pengikutnya!”
Bumipun langsung menelan mereka hingga sebatas kaki. Qorun berusaha lari namun bumi telah mencekeram kakinya, ia pun berteriak,”Hai Musa, maafkan aku! Selamatkan aku!”
Dengan tidak menghiraukan Qorun, Nabi Musa kembali memerintahkan bumi untuk menelan Qorun, “Wahai bumi! Telanlah mereka!”
Lalu bumi menelan mereka sebatas pusar. Begitu seterusnya sampai sebatas leher. Sambil merintih, Qorun terus memohon ampun diiringi sumpah agar Nabi Musa mau mamaafkannya. Namun Nabi Musa tidak menoleh sedikitpun kepada Qorun. Akhirnya bumi menelan sedikit demi sedikit hingga seluruh tubuh mereka.
Setelah kejadian itu orang-orang Bani Israil ribut membicarakn harta kekayaan Qorun yang ditinggalkannya. “Aah, ini semua kan kesengajaan Nabi Musa mendoakan Qorun agar disiksa oleh Alloh, karena Nabi Musa ingin mewarisi dan menguasai istana-istana dan harta kekayaan Qorun”
Nabi Musa sangat marah mendengar perkataan mereka, lalu ia berdoa kepada Alloh, “Ya Alloh, benamkanlah semua harta kekayaan Qorun ke dalam perut bumi agar tidak menjadi fitnah kepadaku dan kepada orang-orang Bani Israil”
Sesaat kemudian terdengar suara keras bersamaan dengan amblasnya seluruh gedung Qorun, harta bendanya dan kekayaannya tanpa tersisa sedebupun.
Ternyata sehebat apapun kelebihan yang dimiliki manusia, bila ia kufur kepada Alloh, tidak melaksanakan perintahnya, dalam waktu singkat Alloh bisa membinasakan seluruh jiwa dan harta manusia, tanpa ada seorangpun yang bias mencegahnya.
Cerita ini popular di masyarakat, bahkan bila ada yang menemukan harta benda dalam tanah disebut harta karun. Itu Cuma istilah saja, bukan betul-betul harta Qorun Bani Israil.
********
SUMBER “TAFSIR KHOZIN”

KISAH TSA'LABAH "harta membawa petaka"


Siang itu Rasululah sedang sholat berjama’ah di masjid bersama para sahabat beliau. Diantara sederetan para sahabat yang makmum di belakang Rasulullah, nampak seorang tengah baya yang kusut rambutnya dengan berpakaian lusuh. Ia dikenal sebagai seorang sahabat Rasululah yang tekun beribadah.
SETELAH Rasulullah menyelesaikan sholat, sahabat berpakaian lusuh itu segera beranjak pulang tanpa membaca wirid dan berdoa terlebih dahulu. Rasulullah menegurnya, “Tsa’labah!... Mengapa engkau tergesa-gesa pulang? Tidakah engkau berdoa terlebih dahulu? Bukankah tergesa-gesa keluar dari masjid adalah kebiasaan orang-orang munafik?”
Tsa’labah menghentikan langkahnya, ia sangat malu ditegur oleh Rasulullah, tetapi apa mau dikata, terpaksa ia berterus terang kepada Rasulullah,
“Wahai Rasululah.... Kami hanya memiliki sepasang pakaian untuk sholat dan saat ini istriku di rumah belum melaksanakan sholat karena menunggu pakaian yang aku kenakan ini. Pakaian yang hanya sepasang ini kami pergunakan sholat secara bergantian. Kami sangat miskin. Untuk itu, Wahai Rasul.... jika engkau berkenan, doakanlah kami agar Allah menghilangkan semua kemiskinan kami dan memberi rejeki yang banyak.”
Rasulullah tersenyum mendengar penuturan Tsa’labah, lalu beliau berkata,
“Tsa’labah sahabatku..., engkau dapat mensyukuri hartamu yang sedikit, itu lebih baik daripada engkau bergelimang harta tetapi engkau menjadi manusia yang kufur”.
Nasehat Rasulullah sedikit menghibur hati Tsa’labah, karena sesungguhnya yang ada dalam benaknya adalah ia sudah bosan menjalani hidup yang serba kekurangan. Satu-satunya cara agar cepat menjadi kaya adalah memohon doa kepada Rasulullah, karena doa seorang utusan Allah pasti didengar Allah. Itulah yang selalu menjadi angan-angan Tsa’labah, hingga keesokan harinya ia kembali menemui Rasulullah dan memohon agar beliau mau medoakannya agar menjadi orang kaya.
Rasulullah kembali menasehati, “Wahai Tsa’labah.. Demi Dzat diriku berada di tanganNya. Seandainya aku memohon kepada Allah agar gunung Uhud menjadi emas, Allah pasti mengabulkan. Tetapi apa yang terjadi jika gunung Uhud benar-benar menjadi emas, masjid-masjid akan sepi!. Semua orang akan sibuk menumpuk kekayaan dari gunung itu! Aku khawatir jika engkau menjadi orang kaya, engkau akan lupa beribadah kepada Allah..”
Tsa’labah terdiam mendengar nasehat Rasulullah namun dalam hatinya terkecamuk,
“Aku mengerti Rasulullah tidak mau mendoakan karena beliau sayang kepadaku. Beliau khawatir jika aku menjadi orang kaya, aku akan menjadi golongannya orang-orang yang kufur. Tetapi aku tidak seburuk itu, justru dengan kekayaan yang kumiliki aku akan membela agama ini dengan hartaku...”
Akhirnya Tsa’labah pulang. Ia merasa malu apabila terus memaksa Rasulullah agar mau mendoakannya. Namun keesokan harinya ia tidak kuasa menahan dorongan hatinya untuk segera terbebas dari belenggu kemiskinan yang kian menghimpitnya. Ditemuinya Rasulullah, ia memohon untuk yang ketiga kalinya agar Rasulullah mau mendoakannya. Kali ini Rasulullah tidak bisa menolak keinginan Tsa’labah, beliau mengadahkan tangan ke langit... “Ya Allah... Limpahkanlah rejekiMu kepada Tsa’labah”
Kemudian Rasulullah memberikan kambing betina yang sedang bunting kepada Tsa’labah. “Peliharalah kambing ini baik-baik....” pesan Rasulullah.
Tsa’labah pulang membawa kambing pemberian Rasulullah dengan hati yang berbunga-bunga. “Dengan modal kambing serta doa Rasulullah, aku yakin aku akan menjadi orang yang kaya raya”.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Tsa’labah yang dulu miskin dan lusuh telah berubah menjadi orang kaya yang terpandang. Kambingnya berjumlah ribuan. Disetiap lembah dan bukit terdapat kambing-kambing Tsa’labah.
Pagi itu Tsa’labah berjalan-jalan meninjau kandang-kandang kambing yang sudah tidak sesuai dengan jumlah kambing yang terus berkembang biak.
“Hmm.. Aku harus pindah dari sini, mencari lahan yang lebih luas untuk menampung kambing-kambingku...”
Akhirnya Tsa’labah menemukan lahan yang luas di pinggiran madinah. Di sana ia membangun kandang-kandang baru yang lebih besar. Namun demikian perkembangan kambing-kambing Tsa’labah bagaikan air bah yang sulit di bendung. Kandang-kandang yang baru dibangun itu pun sudah penuh sesak oleh ribuan kambing. Dengan demikian setiap hari Tsa’labah disibukkan mengurus harta kekayaannya. Ia yang dulu setiap sholat lima waktu selalu berjamaah di masjid, sekarang hanya datang ke masjid pada waktu sholat Dzuhur dan Ashar saja.
Kini kandang-kandang yang baru dibangun Tsa’ labah di pinggiran Madinah sudah tidak lagi memenuhi syarat. Maka ia memutuskan untuk mencari area yang lebih luas lagi. Tentu saja area yang masih sangat luas itu berada jauh di luar Madinah. Tsa’labah sudah tidak memikirkan lagi bagaimana ibadahnya bila jauh dari Madinah. Kepalanya sudah dipenuhi denganhubbuddunya, hingga ia datang ke masjid hanya seminggu sekali yaitu pada waktu sholat Jum’at. Dengan semakin derasnya harta yang mengalir dirumah Tsa’labah, kini ia lebih senang tinggal dirumah daripada jauh-jauh datang ke masjid, bahkan sholat Jum’at pun ia tidak datang ke masjid..!
Sampai Rasulullah bertanya-tanya, “Wahai sahabatku... sudah sekian lama Tsa’labah tidak kelihatan di masjid. Tahukah kalian bagaimana keadaannya sekarang?”
“Wahai Rasulullah... Tsa’labah sudah menjadi orang kaya. Lembah-lembah di Madinah maupun diluar Madinah, telah penuh sesak dengan kambing-kambing Tsa’labah...”
“Benarkah? Mengapa ia tidak pernah menyerahkan shodakohnya sedikitpun?”
Setelah Allah menurunkan ayat tentang kewajiban zakat. Rasulullah mengutus dua orang sahabat untuk menjadi amil zakat. Seluruh umat Islam di Madinah yang hartanya dipandang sudah nishob zakat didatangi, tak terkecuali Tsa’labah pun mendapat giliran. Kedua utusan Rasulullah membacakan ayat zakat dihadapan Tsa’labah. Kemudian setelah dihitung dari seluruh harta kekayaannya ternyata memang banyak harta Tsa’labah yang harus diserahkan sebagai zakat. Tak disangka, Tsa’labah mukanya berubah merah, ia berang...
“Apa-apaan ini! Kalian mengatakan ini zakat..! Tetapi menurutku ini lebih tepat disebut upeti! Pajak! Sejak kapan Rasulullah menarik upeti! Hahh..?! Aku bisa rugi! Kalian pulang saja. Aku tidak mau menyerahkan hartaku..!”
Kedua utusan Rasulullah kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan semua perbuatan Tsa’labah. Beliau bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin namun setelah kaya ia telah terpengaruh dengan harta kekayaannya.
“Sungguh celaka Tsa’labah! Celakalah ia!”
Kemudian Allah menurunkan ayat 75 dalam surat At Taubah, tentang ciri-ciri orang munafik.
Ayat itu segera menyebar ke seluruh muslimin di Madinah, hingga ada salah seorang kerabat Tsa’labah yang datang memberitahunya..” Celakalah engkau Tsa’labah! Allah telah menurunkan ayat karena perbuatanmu!”
Tsa’labah tertegun, ia baru sadar bahwa nafsu angkara murka telah lama memperbudaknya. Kini ia bergegas menghadap Rasulullah dengan membawa zakat dari seluruh hartanya. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa kecuali hanya sepatah kata, “Sebab kedurhakaanmu, Allah melarangku untuk menerima zakatmu!”
Rasulullah mengambil segenggam tanah lalu ditaburkan diatas kepala Tsa’labah...“Inilah perumpamaan amalanmu selama ini... sia-sia belaka! Aku telah peintahkan agar engkau menyerahkan zakat, tetapi engkau menolak. Celakalah engkau Tsa’labah!”
Tsa’labah berjalan lunglai kembali kerumahnya. Hari-hari dalam hidupnya hanya dipenuhi dengan penyesalan yang tiada arti. Sampai suatu hari terdengar kabar Rasulullah telah wafat, ia semakin bersedih karena taubatnya tidak diterima oleh Rasulullah hingga beliau wafat.
Tsa’labah mencoba mendatangi khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah. Ia datang dengan membawa zakatnya. Apakah Abu Bakar menerimanya? Abu Bakar hanya berkata, “Rasulullah saja tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku menerima zakatmu?”
Demikian pula di jaman kekhalifahan Umar bin Khattab, Tsa’labah mencoba menyerahkan zakatnya. Umar pun tidak mau menerima sebagaimana Rasulullah dan Abu Bakar tidak mau menerima zakatnya. Bahkan sampai khalifah Utsman bin Affan juga tidak mau menerima zakat Tsa’labah karena Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tidak mau menerima zakatnya.
Kehidupan yang hina dan penuh kemurkaan Allah telah menimpa seorang sahabat Rasulullah yang telah tenggelam di dalam gelimang harta hingga menyeretnya ke lembah kemunafikan. Ia telah melalaikan kewajibannya. Ia telah mengingkari janji-janjinya. Ia telah melecehkan kemuliaan Allah dan RasulNya, sehingga membuahkan penderitaan yang kekal abadi di dalam neraka.***

HR “IBNU JARIR”
DALAM TAFSIR IBNU KATSIR

Percikan Kisah Teladan "Perumpamaan Amal"

Di sebuah desa terpencil , di tepi hutan di lembah yang hijau hiduplah sekelompok masyarakat yang mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang. Ketika itu hari pasar sedang berlangsung di desa tersebut dan ramai di kunjungi baik dari penduduk setempat maupun dari desa lainnya. Diantara keramaian pasar ada tiga pemuda yang sedang menjajakan daganganya yaitu kayu bakar yang mereka bawa dari hutan. Mereka adalah Umar, Abu, Abbas.

Kegiatan sehari-hari mereka adalah mencari kayu bakar di hutan lalu dijualnya ke pasar. Pekerjaan ini mereka lakukan tanpa pernah melirik pekerjaan orang lain, barangkali Ilahi sudah menentukan demikian. Ketiga pemuda sebaya itu sangat akrab satu sama lainnya, walaupun begitu ketiganya mempunyai perangai berbeda.

Umar berperangai sabar,tekun dalam beribadah dan suka bekerja keras Setelah Sholat Subuh di saat matahari belum terbit, ia sudah pergi menjemout kedua temannya yang masih terlelap untuk mengajak pergi mencari kayu bakar. Abu, kadang mengerjakan sholat shubuh, kadang tidak Abbas, adalah tipe pemalas yang susah bangun pagi. Kadang ia ditinggal saja oleh kedua temannya, karena ia selalu beralasan ,“Aku masih ngantuk nigh. Duluan saja, nanti aku akan menyusul”.

Umar memperlihatkan rasa kasih sayangnya kepada semua orang. Ia sangat menyayangi saudara dan kedua orang tuanya. Ia juga menyangi orang_orang di sekelilingnya. Ia akan segera membantu mereka yang perlu bantuannya. Temannya, Abu, sikapnya biasa-biasa saja. Ia tdak terlalu antusias dengan lingkungannya. Jika ia diajak Umar untuk membantu masyarakat yang meminta bantuan, barulah ia pergi membantu. Tapi Abbas, adalah pemuda yang cuek. Ia merasa tidak perlu banyak membantu orang lain, ia merasa bahwa ia adalah orang miskin yang juga memerlukan bantuan orang lain. Terhadap keluarganya pun ia tidak punya perhatian. Ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

Begitulah, katiga sahabat itu memang berbeda, walau pun begitu tetas saja mereka bersama. Sampai suatu ketika mereka sepakat untuk pergi ke hutan di sebelah barat dengan harapan bisa mendapatkan kayu-kayu bakar yang lebih baik kualitasnya dan lebih banyak dari yang mereka dapatkan.

Seperti biasa setelah sholat shubuh, hari masih gelap, Umar menjemput kedua temannya. Kemudian ketiganya berangkat menuju hutan sebelah barat. Perjalanan kali ini cukup jauh, harus melewati sungai, lembah, dan bukit-bukit terjal di pegunungan. Menjelang siang hari sampailah mereka di suatu tempat yang banyak kayu bakarnya . Kemudian mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya.

Ketika mereka sedang asyik mengumpulkan kayu-kayu bakar tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai dengan petir yang bersahutan.. Ketiganya sangat bingung dan ketakutan, mereka lau berlari mencari tempat berteduh.

Umar melihat sebuah gua, kemudian ia berteriak kepada kedua temannya untuk berteduh di sana. Mereka pun masuk ke dalam gua yang gelap gulita itu. Di dalam gua, mereka tidak melihat apa-apa di sekelilingnya. Seakan-akan mata mereka buta. Ketiganya pun berjalan perlahan. Tiba-tiba mereka menginjak benda-benda halus licin seperti kerikil. Bersamaan dengan itu mereka dikejutkan dengan sebuah suara yang menggema ke seluruh ruangan gua. “Siapa yang mengambil akan meyesal. Siapa yang tidak akan mengambil akan menyesal”.

Ketiganya mendengar suara itu berulang-ulang hingga lama-lama menghilang. Kemudian Umar, Abu dan Abbas memutar otaknya untuk mencari keuntungan dari suara gaib itu. “Apakah yang akan di ambil?” Ada apa di dalam gua ini?” begitu piker mereka. Tetapi mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.

Umar berkat dalam hatinya, “Kalau saya ambil, saya akan menyesl, kalau tidak saya ambil, saya juga akan menyesal . Ah, lebih baik ambil saja yang banyak. “ Ia pun langsung memenuhi semua kantong baju dan celana dengan kerikil-kerikil itu.

Abu pun berpikiran sama, tapi ia hanya mengambil kerikil-kerikil itu hanya segenggam. Sebaliknya, Abbas malah tidak mau mengambil barang sedikiy pun. “Kalau sama-sama menyesal lebih baik tidak aku ambil” pikirnya.

Ketiganya pun membisu. Mereka masih ketakutan. Kemudian Umar mengajak kedua temannya untuk keluar dari gua. Mereka pun berlari keluar. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari gua. Dengan nanapas terengah-engah akhirnya mereka berhenti. Tidak terasa ternyata hujan juga sudah reda. Ketiganya lalu ingin membuktikan apa sebetulnya yang telah mereka ambil dari gua. Betapa terperanjatnya mereka bertiga ketika mengetahui bahwa kerikil-kerikil itu ternyata adalah berlian!!

Umar sudah mengantongi banyak berlian merasa menyesal,”Waduh!! Kalau saja aku tahu ini berlian, aku akan mengambilnya lebih banyak lagi. Kalau perlu akan aku buka bajuku untuk mengantongi berlian itu sebanyak-banyaknya.”

Abu juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Sedangkan Abbas, tubuhnya langsung lemas ketika mengetahui kedua temannya mendapatkan berlian. Ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. “Ohh.. mengapa tadi aku tidak mengambil barang sedikit saja..” ia pun jatuh pingsan dengan sejuta penyesalan.

Setelah Abbas siuman, ketiganya sepakat untuk mendatangi gue itu lagi. Dengan semangat Abbas langsung mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh Umar dan Abu. Ketiganya berharap begitu mereka sampai di gua itu lagi, mereka akan mengambil berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya. Tapi setelah mereka sampai di sana ternyata mulut gua sudah tertutup dengan batu yang sangat besar. Mereka berusaha untuk membukanya tapi sia-sia. Mereka pun pulang dengan menyesal karena tidak dapat memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.

Begitulah gambaran manusia di dunia. Dan buah pengamalan itu akan diperoleh kelak di akhirat. Berlian-berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Di hari pembalasan, semua manusia akan menyesal melihat pahala yang diberikan Allah begitu banyak.

Yang beramal banyak akan menyesal kenapa ia tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit akan menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya.

Gua menggambarkan dunia dimana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun yang tidak beramal sama sekali sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan gua yang tertutup menggambarkan kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.

Sabda Nabi :
“Tidak ada dari seseorang yang sudah mati kecuali dia akan menyesal.”
Sahabat bertanya,”Mengapa dia menyesal wahai Rosulullah?”
Nabi menjawab,”Jika dia orang yang beramal baik, dia menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (ketika di dunia), dan jika dia orang beramal jelek, dia menyesal mengapa tidak mencabut (bertaubat) atas amal jeleknya (ketika di dunia).