Kamis, 24 Maret 2011

Percikan Kisah Teladan "Perumpamaan Amal"

Di sebuah desa terpencil , di tepi hutan di lembah yang hijau hiduplah sekelompok masyarakat yang mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang. Ketika itu hari pasar sedang berlangsung di desa tersebut dan ramai di kunjungi baik dari penduduk setempat maupun dari desa lainnya. Diantara keramaian pasar ada tiga pemuda yang sedang menjajakan daganganya yaitu kayu bakar yang mereka bawa dari hutan. Mereka adalah Umar, Abu, Abbas.

Kegiatan sehari-hari mereka adalah mencari kayu bakar di hutan lalu dijualnya ke pasar. Pekerjaan ini mereka lakukan tanpa pernah melirik pekerjaan orang lain, barangkali Ilahi sudah menentukan demikian. Ketiga pemuda sebaya itu sangat akrab satu sama lainnya, walaupun begitu ketiganya mempunyai perangai berbeda.

Umar berperangai sabar,tekun dalam beribadah dan suka bekerja keras Setelah Sholat Subuh di saat matahari belum terbit, ia sudah pergi menjemout kedua temannya yang masih terlelap untuk mengajak pergi mencari kayu bakar. Abu, kadang mengerjakan sholat shubuh, kadang tidak Abbas, adalah tipe pemalas yang susah bangun pagi. Kadang ia ditinggal saja oleh kedua temannya, karena ia selalu beralasan ,“Aku masih ngantuk nigh. Duluan saja, nanti aku akan menyusul”.

Umar memperlihatkan rasa kasih sayangnya kepada semua orang. Ia sangat menyayangi saudara dan kedua orang tuanya. Ia juga menyangi orang_orang di sekelilingnya. Ia akan segera membantu mereka yang perlu bantuannya. Temannya, Abu, sikapnya biasa-biasa saja. Ia tdak terlalu antusias dengan lingkungannya. Jika ia diajak Umar untuk membantu masyarakat yang meminta bantuan, barulah ia pergi membantu. Tapi Abbas, adalah pemuda yang cuek. Ia merasa tidak perlu banyak membantu orang lain, ia merasa bahwa ia adalah orang miskin yang juga memerlukan bantuan orang lain. Terhadap keluarganya pun ia tidak punya perhatian. Ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

Begitulah, katiga sahabat itu memang berbeda, walau pun begitu tetas saja mereka bersama. Sampai suatu ketika mereka sepakat untuk pergi ke hutan di sebelah barat dengan harapan bisa mendapatkan kayu-kayu bakar yang lebih baik kualitasnya dan lebih banyak dari yang mereka dapatkan.

Seperti biasa setelah sholat shubuh, hari masih gelap, Umar menjemput kedua temannya. Kemudian ketiganya berangkat menuju hutan sebelah barat. Perjalanan kali ini cukup jauh, harus melewati sungai, lembah, dan bukit-bukit terjal di pegunungan. Menjelang siang hari sampailah mereka di suatu tempat yang banyak kayu bakarnya . Kemudian mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya.

Ketika mereka sedang asyik mengumpulkan kayu-kayu bakar tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai dengan petir yang bersahutan.. Ketiganya sangat bingung dan ketakutan, mereka lau berlari mencari tempat berteduh.

Umar melihat sebuah gua, kemudian ia berteriak kepada kedua temannya untuk berteduh di sana. Mereka pun masuk ke dalam gua yang gelap gulita itu. Di dalam gua, mereka tidak melihat apa-apa di sekelilingnya. Seakan-akan mata mereka buta. Ketiganya pun berjalan perlahan. Tiba-tiba mereka menginjak benda-benda halus licin seperti kerikil. Bersamaan dengan itu mereka dikejutkan dengan sebuah suara yang menggema ke seluruh ruangan gua. “Siapa yang mengambil akan meyesal. Siapa yang tidak akan mengambil akan menyesal”.

Ketiganya mendengar suara itu berulang-ulang hingga lama-lama menghilang. Kemudian Umar, Abu dan Abbas memutar otaknya untuk mencari keuntungan dari suara gaib itu. “Apakah yang akan di ambil?” Ada apa di dalam gua ini?” begitu piker mereka. Tetapi mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.

Umar berkat dalam hatinya, “Kalau saya ambil, saya akan menyesl, kalau tidak saya ambil, saya juga akan menyesal . Ah, lebih baik ambil saja yang banyak. “ Ia pun langsung memenuhi semua kantong baju dan celana dengan kerikil-kerikil itu.

Abu pun berpikiran sama, tapi ia hanya mengambil kerikil-kerikil itu hanya segenggam. Sebaliknya, Abbas malah tidak mau mengambil barang sedikiy pun. “Kalau sama-sama menyesal lebih baik tidak aku ambil” pikirnya.

Ketiganya pun membisu. Mereka masih ketakutan. Kemudian Umar mengajak kedua temannya untuk keluar dari gua. Mereka pun berlari keluar. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari gua. Dengan nanapas terengah-engah akhirnya mereka berhenti. Tidak terasa ternyata hujan juga sudah reda. Ketiganya lalu ingin membuktikan apa sebetulnya yang telah mereka ambil dari gua. Betapa terperanjatnya mereka bertiga ketika mengetahui bahwa kerikil-kerikil itu ternyata adalah berlian!!

Umar sudah mengantongi banyak berlian merasa menyesal,”Waduh!! Kalau saja aku tahu ini berlian, aku akan mengambilnya lebih banyak lagi. Kalau perlu akan aku buka bajuku untuk mengantongi berlian itu sebanyak-banyaknya.”

Abu juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Sedangkan Abbas, tubuhnya langsung lemas ketika mengetahui kedua temannya mendapatkan berlian. Ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. “Ohh.. mengapa tadi aku tidak mengambil barang sedikit saja..” ia pun jatuh pingsan dengan sejuta penyesalan.

Setelah Abbas siuman, ketiganya sepakat untuk mendatangi gue itu lagi. Dengan semangat Abbas langsung mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh Umar dan Abu. Ketiganya berharap begitu mereka sampai di gua itu lagi, mereka akan mengambil berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya. Tapi setelah mereka sampai di sana ternyata mulut gua sudah tertutup dengan batu yang sangat besar. Mereka berusaha untuk membukanya tapi sia-sia. Mereka pun pulang dengan menyesal karena tidak dapat memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.

Begitulah gambaran manusia di dunia. Dan buah pengamalan itu akan diperoleh kelak di akhirat. Berlian-berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Di hari pembalasan, semua manusia akan menyesal melihat pahala yang diberikan Allah begitu banyak.

Yang beramal banyak akan menyesal kenapa ia tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit akan menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya.

Gua menggambarkan dunia dimana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun yang tidak beramal sama sekali sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan gua yang tertutup menggambarkan kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.

Sabda Nabi :
“Tidak ada dari seseorang yang sudah mati kecuali dia akan menyesal.”
Sahabat bertanya,”Mengapa dia menyesal wahai Rosulullah?”
Nabi menjawab,”Jika dia orang yang beramal baik, dia menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (ketika di dunia), dan jika dia orang beramal jelek, dia menyesal mengapa tidak mencabut (bertaubat) atas amal jeleknya (ketika di dunia).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar