Senin, 04 Juli 2011

Kisah Khidhr Bersama Nabi Musa


Disebutkan bahwa kisah ini bermula ketika Nabi Musa p
mengajar Bani Israil berbagai ilmu. Mereka merasa kagum dgn keluasan ilmunya. Di saat itu ada yg berta kepadanya: “Wahai Nabi Allah adakah di dunia ini seseorang yg lbh berilmu daripada engkau?”
Nabi Musa p
mengatakan “Tidak.” Jawaban ini didasari pengetahuan yg ada pada beliau sekaligus sebagai dorongan mereka agar menimba ilmu yg ada pada beliau. Namun Allah k
segera mengabarkan kepada beliau bahwa ada seorang hamba-Nya yg ada di daerah pertemuan dua laut mempunyai ilmu yg tdk ada pada Nabi Musa p
dan hal-hal yg luar biasa.
Akhir muncullah keinginan beliau utk bertemu dan menambah ilmu yg ada pada dari hamba Allah tersebut. Dan beliau memohon agar Allah k
mengizinkannya. Kemudian Allah k
menerangkan kepada beliau tempat di mana Khidhr1 berada dan memerintahkan agar beliau membawa bekal seekor ikan. Lalu dikatakan kepadanya: “Apabila engkau kehilangan ikan itu mk dia berada di tempat tersebut.”
Beliaupun berangkat dan akhir bertemu. Dan kisah ini Allah sebutkan selengkap di dlm surat Al-Kahfi:
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لاَ أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا. فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيْلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا.. وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلاَمَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوْهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
“Dan ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tdk akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun’. mk tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu mereka lalai akan ikan lalu ikan itu melompat mengambil jalan ke laut itu. mk tatkala mereka berjalan lbh jauh berkatalah Musa kepada muridnya: ‘Bawalah kemari makanan kita; sesungguh kita telah merasa letih krn perjalanan kita ini’. Murid menjawab: ‘Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi mk sesungguh aku lupa ikan itu dan tdk adl yg melupakan aku utk menceritakan kecuali setan dan ikan itu mengambil jalan ke laut dgn cara yg aneh sekali.’ Musa berkata: ‘Itulah yg kita cari’. Lalu kedua kembali mengikuti jejak mereka semula. Lalu mereka bertemu dgn seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yg telah Kami berikan kepada rahmat dari sisi Kami dan yg telah Kami ajarkan kepada ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidhr: ‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yg benar di antara ilmu-ilmu yg telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Sesungguh kamu sekali-kali tdk akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yg kamu belum mempunyai pengetahuan yg cukup tentang hal itu?’ Musa berkata: ‘Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yg sabar dan aku tdk akan menentangmu dlm satu urusanpun’. Dia berkata: ‘Jika kamu mengikutiku mk janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri menerangkan kepadamu’. mk berjalanlah kedua hingga tatkala kedua menaiki perahu lalu Khidhr melubanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melubangi perahu itu yg akibat kamu menenggelamkan penumpangnya?’ Sesungguh kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yg besar. Dia berkata: ‘Bukankah aku telah berkata: ‘Sesungguh kamu sekali-kali tdk akan sabar bersama dgn aku.’ Musa berkata: ‘Janganlah kamu menghukum aku krn kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dgn sesuatu kesulitan dlm urusanku’. mk berjalanlah keduanya; hingga tatkala kedua berjumpa dgn seorang anak mk Khidhr membunuhnya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu bunuh jiwa yg bersih bukan krn dia membunuh orang lain? Sesungguh kamu telah melakukan suatu yg mungkar’. Khidhr berkata: ‘Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguh kamu tdk akan dapat sabar bersamaku?’ Musa berkata: ‘Jika aku berta kepadamu tentang sesuatu sesudah ini janganlah kamu membolehkan aku menyertaimu sesungguh kamu sudah cukup memberikan uzur padaku’. mk kedua berjalan; hingga tatkala kedua sampai kepada penduduk suatu negeri mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tdk mau menjamu mereka kemudian kedua mendapatkan dlm negeri itu dinding rumah yg hampir roboh mk Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: ‘Jikalau kamu mau niscaya kamu mengambil upah utk itu’. Khidhr berkata: ‘Inilah perpisahan antara aku dgn kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yg kamu tdk dapat sabar terhadapnya. Adapun bahtera itu adl kepunyaan orang2 miskin yg bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu krn di hadapan mereka ada seorang raja yg merampas tiap bahtera. Dan adapun anak itu mk kedua orang tua adl orang2 mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tua itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Rabb mereka mengganti anak lain bagi mereka yg lbh baik kesucian dari anak itu dan lbh dlm kasih sayang . Adapun dinding rumah itu adl kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawah ada harta benda simpanan bagi mereka berdua sedangkan ayah adl seorang yg shalih mk Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanan itu sebagai rahmat dari Rabbmu; dan tidaklah aku melakukan menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adl tujuan perbuatan-perbuatan yg kamu tdk dapat sabar terhadapnya’.”
Beberapa Pelajaran Penting
1. Kisah ini sarat dgn berbagai keutamaan ilmu dan disyariatkan rihlah mencari ilmu. Dan diterangkan pula dlm kisah ini bahwa ilmu adl perkara yg sangat penting. Nabi Musa p
melakukan perjalanan yg sangat jauh utk menuntut ilmu dan merasakan keletihan. Beliau lbh suka meninggalkan Bani Israil agar nanti dapat mengajar dan membimbing mereka dan memilih berangkat mencari tambahan ilmu.
2. Diterangkan dlm kisah ini bahwa tahap awal dlm menuntut ilmu hendak dimulai dari yg paling utama kemudian berikutnya. Karena sesungguh seseorang yg menambah ilmu dgn usahanya sendiri lbh penting daripada dia meninggalkan krn semata-mata sibuk mengajar. Hendaklah dia kerjakan kedua sekaligus mengajar sambil tetap belajar.
3. Boleh mengangkat seorang pelayan dlm perjalanan atau ketika bermukim utk memudahkan urusan dan ketenangan sebagaimana dilakukan oleh Nabi Musa p
.
4. Seorang musafir yg menuntut ilmu berjihad ataupun utk melaksanakan suatu ketaatan apabila memang terdapat kemaslahatan yg nyata utk disampaikan kepada yg lain ke mana dan apa yg dicari mk lbh baik menceritakan daripada merahasiakannya.
Ini mengandung berbagai manfaat. Di samping utk mempersiapkan diri juga sebagai dorongan utk mengerjakan amalan yg utama ini. Sebagaimana yg beliau katakan di dlm ayat tersebut:
لاَ أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
“Aku tdk akan berhenti sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.”
Dan tatkala Rasulullah p
dalam peristiwa perang Tabuk beliau mengabarkan banyak tujuan kepada manusia. Padahal biasa apabila ingin memerangi suatu kaum beliau rahasiakan maksud dan tujuan beliau utk suatu kemaslahatan.
5. Boleh menisbahkan suatu kejahatan sebab-sebab dan kekurangan kepada setan. Dengan dalil perkataan pembantu Nabi Musa p
kepada sebagaimana difirmankan Allah k
:
وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلاَّ الشَّيْطَانُ
“Dan tidaklah ada yg membuat saya lupa mengingat kecuali setan.”
6. Boleh menceritakan apa yg dirasakan oleh diri sendiri kepada orang lain seperti letih lapar atau dahaga dan tabiat manusiawi lainnya. Dengan syarat jujur dlm mengucapkan dan bukan didorong oleh kejengkelan atau tdk suka terhadap semua keadaan tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah k
tentang perkataan Nabi Musa p
:
لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا
“Sungguh kita telah merasa letih dgn perjalanan kita ini.”
7. Diajarkan kepada kita dlm kisah ini utk mengambil seorang pembantu yg cerdas dan rajin agar bisa menyempurnakan semua urusan yg diinginkan. Dan sangat dianjurkan utk memberi makan seorang pembantu dari apa yg dimiliki atau memakan bersama-sama. Karena lafadz ayat آتِنَا غَدَاءَنَا arti utk semuanya. Diambil dari pengertian ayat ini bahwa pertolongan itu diperoleh seseorang sesuai dgn sejauh mana dia menjalankan hal-hal yg disyariatkan. Dan barangsiapa yg amalan sesuai dgn apa yg diridhai oleh Allah k
niscaya dia akan ditolong dgn sesuatu yg belum tentu diterima oleh orang lain. Hal ini adl krn firman Allah k
tentang ucapan Nabi Musa p
لَقَدْ لَقِيْنَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا menunjukkan perjalanan yg telah melampaui pertemuan dua buah laut itu. Sedangkan perjalanan yg pertama mereka tempuh beliau belum mengeluhkan meskipun sudah demikian jauhnya.
8. Hamba Allah yg ditemui oleh Nabi Musa p
bukanlah seorang nabi. Khidhr hanyalah seorang hamba yg shalih yg mempunyai ilmu dan senantiasa mendapat ilham . Ini juga berdasarkan sebutan Allah dan pujian-Nya di mana Allah menyebut Khidhr sebagai seorang hamba yg istimewa dan mempunyai ilmu serta sifat-sifat yg baik lainnya. Allah tdk menyebut sebagai nabi atau rasul. Adapun perkataan Khidhr yg disebutkan Allah k
di akhir kisah ini:
وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي
“Dan tidaklah aku melakukan menurut kehendakku sendiri.”
Ungkapan tersebut tidaklah menunjukkan bahwa beliau adl seorang nabi.
Kalimat tersebut tdk lain hanyalah menyatakan bahwa semua itu adl ilham dan bimbingan dari Allah. Hal ini mungkin saja terjadi pada orang2 yg kedudukan bukan nabi. Sebagaimana Allah k
berfirman:
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ..
“Dan Rabbmu telah mewahyukan kepada lebah itu..”
Dan:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى..
“Dan telah Kami wahyukan kepada ibu Musa..”
9. dlm kisah ini diterangkan bahwa ilmu yg diajarkan kepada para hamba-Nya ada dua jenis:
Pertama: Ilmu yg diusahakan yg dapat difahami oleh seseorang dgn mempelajari dan bersungguh-sungguh mendapatkannya.
Kedua: Ilmu yg berupa ilham laduni sebagai hadiah yg dianugerahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya dgn dalil:
وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Dan telah Kami ajarkan kepada ilmu dari sisi Kami.”
Dan Khidhr mendapat bagian sangat banyak dari ilmu jenis yg kedua ini.
10. dlm kisah ini diterangkan kepada kita agar mempunyai adab sopan santun dan bersikap lemah lembut terhadap guru atau pendidik sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Musa. Firman Allah k
:
هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu-ilmu yg telah diajarkan kepadamu?”
Dalam ayat itu disebutkan cara Nabi Musa p
mengeluarkan tutur kata yg sangat santun dan seakan-akan sedang meminta pendapat. Seakan-akan beliau menyebutkan: “Apakah engkau bersedia memberi izin kepada saya ataukah tidak?” Di sini beliau tampakkan betapa butuh beliau kepada guru tersebut. Beliau belajar dari Khidhr dan mempunyai keinginan besar utk mendapatkan ilmu yg ada pada gurunya.
Hal ini berbeda dgn orang2 yg sombong dan kasar yg merasa tdk butuh kepada ilmu seorang guru atau pendidik. Dan sesungguh tdk ada yg lbh bermanfaat bagi seorang murid atau pencari ilmu selain menunjukkan sangat butuh kepada ilmu yg ada pada guru dan berterima kasih atas bimbingan serta didikannya.
11. dlm kisah ini digambarkan sikap tawadhu’ . Seorang yg kedudukan sangat mulia mau belajar menimba ilmu dari seorang yg kedudukan berada di bawahnya. Tidak kita sangsikan lagi bahwa Nabi Musa  jauh lbh mulia dari Khidhr. Jadi dari kisah ini boleh seorang yg berkedudukan tinggi menimba ilmu yg tdk dikuasai kepada orang yg mahir dlm ilmu tersebut meskipun orang yg mahir itu berada di bawah dlm ilmu.
Nabi Musa p
adl salah seorang Rasul Ulul ‘Azmi yg telah Allah berikan ujian dan ilmu yg tdk diberikan-Nya kepada yg lain. Namun dlm ilmu yg khusus ini hanya Khidhr yg memilikinya. Oleh sebab itulah betapa besar antusiasme beliau utk mempelajari dari Khidhr.
Dengan demikian sangat jelas wajib kita sandarkan bahwa ilmu ini ataupun berbagai karunia dan keutamaan lain semua adl karunia dan rahmat Allah. Bahkan wajib mengakui dan bersyukur kepada Allah atas semua keni’matan itu sebagaimana diisyaratkan dlm perkataan Nabi Musa p
kepada Khidhr dlm ayat tersebut: أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا .
12. Dijelaskan dlm kisah ini bahwa ilmu yg bermanfaat adl ilmu yg membimbing pemilik kepada kebaikan. Demikian pula hal ilmu-ilmu yg mengandung bimbingan dan hidayah atau petunjuk menuju jalan kebaikan dan mengingatkan agar menjauhi jalan yg buruk atau yg mengarah kepada semua adl ilmu yg bermanfaat. Sedangkan yg selain itu boleh jadi hanya akan menimbulkan madharat atau tdk berguna sama sekali. Inilah yg diisyaratkan dlm ayat tadi: أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا .
13. Diajarkan pula kepada kita dari kisah ini bahwa seseorang yg tdk sanggup bersabar dlm menyertai guru atau pendidik atau tdk memiliki kekuatan utk tetap tsabat dlm menempuh jalan mencari ilmu mk dia bukanlah termasuk orang yg dikatakan pantas utk menerima ilmu. Barangsiapa tdk mempunyai kesabaran utk menuntut ilmu niscaya dia tdk akan mendapatkannya. Sebalik siapa yg sanggup bersabar dan membiasakan diri menghadapi suatu permasalahan niscaya dia akan memperoleh semua yg ingin dicapainya. Dan Khidhr telah memberikan penjelasan kepada Nabi Musa p
bahwa beliau tdk akan sanggup bersabar utk mengetahui ilmu khusus yg ada padanya.
Adapun hal-hal yg dapat mendukung seseorang bersabar menghadapi sesuatu adl pengetahuan terhadap permasalahan itu manfaat buah atau hasilnya. Barangsiapa tdk mengetahui beberapa perkara ini akan sulit bagi utk bersabar. Allah k
berfirman menceritakan perkataan Khidhr kepada Nabi Musa p
:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
“Dan bagaimana kamu dapat bersabar terhadap sesuatu yg kamu belum mempunyai pengetahuan yg cukup tentang hal itu.”
14. dlm kisah ini dianjurkan berhati-hati dan teliti serta tdk terburu-buru menghukumi suatu permasalahan sampai yg diinginkan atau yg dimaksud benar-benar jelas.
15. dlm kisah ini terdapat dalil disyariatkan menyandarkan suatu keadaan yg akan terjadi kepada kehendak Allah seperti disebutkan dlm ayat:
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ صَابِرًا وَلاَ أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
“Insya Allah engkau akan dapati aku sebagai seorang yg sabar dan aku tdk akan menentangmu dlm suatu urusanpun.”
16. ‘Azam utk melaksanakan sesuatu tidaklah sama dgn pelaksanaannya. Dan Nabi Musa p
memang berazam utk sabar namun beliau tdk melaksanakannya.
17. Pelajaran lain dari kisah ini apabila seorang pendidik melihat ada kemaslahatan dgn menerangkan kepada murid agar tdk berta tentang suatu permasalahan hingga dia sendiri yg menerangkan masalah itu kepada . Dan sesungguh kemaslahatan itu senantiasa mengikuti. Sebagaimana hal bila seorang murid mempunyai pemahaman kurang sempurna hendak guru melarang murid memberatkan diri utk meneliti suatu permasalahan sedemikian rupa dan berta tentang persoalan yg tdk ada kaitan dgn topik yg diajarkan.
18. Boleh mengendarai sebuah kapal jika memang tdk membahayakan.
19. Diterangkan pula dlm kisah ini bahwa seorang yg lupa tdk pantas dihukum baik terlupa hak Allah atau hak hamba-hamba-Nya. Kecuali apabila pelanggaran itu menimbulkan kerusakan atau kerugian harta benda. mk dlm permasalahan ini perlu ada dhiman termasuk orang yg lupa. Allah k
berfirman tentang perkataan Nabi Musa p
kepada Khidhr:
قَالَ لاَ تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيْتُ
“Janganlah kamu menghukumku krn kelupaanku.”
20. dlm berinteraksi dgn sesama manusia sepantas seseorang melakukan sesuatu yg dapat menimbulkan sikap toleran dan pemaafan mereka. Janganlah membebani mereka dgn sesuatu yg mereka tdk mampu melakukan sangat memberatkan atau bahkan menghancurkan mereka. Kalau ini terjadi tentu akan menjadi pemicu bagi mereka utk menjauh. Bahkan hendak dia juga mempunyai sikap memudahkan agar semua urusan juga mudah.
21. Semua permasalahan itu terjadi berdasarkan kenyataan lahiriahnya. Dan berangkat dari hal ini pula ditegakkan hukum-hukum duniawi dlm berbagai persoalan. Dikatakan demikian krn kita lihat sikap Nabi Musa p
mengingkari tindakan Khidhr merusak kapal yg mereka tumpangi dan membunuh seorang remaja berdasarkan ketentuan umum yg berlaku. Dan beliau tdk melihat kepada perjanjian yg disepakati bersama Khidhr utk tdk berta dan membantah semua tindakan sampai Khidhr sendiri yg memulai memberikan penjelasan.
22. dlm kisah ini kita dapatkan juga keterangan yg jelas tentang kaidah penting dlm syariat Islam ini yaitu boleh mencegah terjadi kejahatan yg besar dgn melakukan kejahatan yg lbh ringan dan keharusan menjaga kemaslahatan yg lbh besar meskipun akibat kehilangan kemaslahatan yg lbh kecil. Jadi pembunuhan yg dilakukan Khidhr jelas kejahatan. Namun apabila anak itu tetap hidup sampai dewasa dan menyesatkan kedua ibu bapak mk ini adl kejahatan yg jauh lbh besar.
Bila anak itu dibiarkan tetap hidup meskipun kelihatan baik secara lahiriah namun keberadaan ibu bapak dlm agama mereka jauh lbh baik lagi. Oleh krn itulah Khidhr membunuh sesudah Allah mengilhamkan kepada hakekat keadaan anak tersebut. Dengan demikian ilham batin yg diterima Khidhr mempunyai kedudukan yg sama seperti keterangan yg nyata bagi orang lain.
Kaidah lain adl tentang tindakan manusia terhadap harta orang lain. Bila dilakukan dgn cara yg mengandung maslahat dan jauh dari kerusakan mk hal ini dibolehkan meskipun tanpa izin. Meskipun perbuatan itu merugikan seperti perbuatan Khidhr yg merusak kapal yg ditumpangi utk menyelamatkan kapal itu dari rampasan seorang raja dzalim ketika itu. Dan masih banyak faedah lain yg berada di bawah kaidah-kaidah ini.
23. Boleh bekerja di lautan sebagaimana juga boleh bekerja di daratan krn ada ayat:
يَعْمَلُوْنَ فِي الْبَحْرِ
“Mereka bekerja di laut…”
24. Faedah lain membunuh termasuk dosa-dosa besar.
1 Disebutkan dlm Al-Mughni fi Dhabthi Asma`ir Rijal karya Muhammad bin Thahir Al-Hindi : Khidhr: bisa diucapkan dgn memfathahkan huruf kha atau mengkasrahkan dan mensukun huruf dhadh atau memfathahkan atau mengkasrahkan

Sabtu, 11 Juni 2011

Kesudahan yang berlawanan.

Tatkala masih di bangku sekolah, akuhidup bersama kedua orang tuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalumendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikianpula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran mengapa ayahshalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran, bahkan hingga akuberkata kepada diriku sendiri: “alangkah sabarnya mereka …. Setiap hari begitu….. benar-benar mengherankan!.
Aku belum tahu bahwa di situlahkebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat-shalat orang-orang pilihan… merekabangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer,aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dariAllah.padahal berbagai nasihat kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, akuditugaskan di kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-temansekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Di sana, aku tak mendengar lagi suarabacaan Al Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhkushalat. Aku benar-benar hidup sendirian jauh dari lingkungan keluarga yang dulukami nikmati.
Aku ditugasi menjaga keamanan lalulintas di jalan antar kota. Di samping menjaga keamanan jalan. Tugasku membantuorang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan,aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi, tetapi hidupkubagaikan di ombang-ambingkan ombak.
Aku bingung dan sering melamunsendirian… bayak waktu luang…. pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh… tak ada yangmenuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir setiap hari yangkusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan ataubentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hariterjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawansedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol… tiba–tiba kamidikagetkan oleh sebuah benturan yang amat keras, kami mengedarkan pandangan.Ternyata sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arahyang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolongkorban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kamilihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis, keduanya segerakami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju mobil satunya.Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali kepadadua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkankalimat syahadat.
Ucapkanlah: “Laailaaha Illallaah …laailaaha illallaah perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan, darimulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan ini membuatku merinding. Temankutampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat… kembali ia menuntunkorban itu membaca syahadat.
Aku diam membisu, aku tak berkutikdengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yangsedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntunkeduanya mengulang-ulang bacaan syahadat, tetapi… keduanya tetap terus sajamelantunkan lagu tak ada gunanya…
Suara lagunya terdengar semakinmelemah.. lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi,disusul orang kedua. Tak ada gerak … keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia takberbicara sepatah katapun. Selama perjalanannya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika temanku mulaibicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah(kesudahan yang buruk). ia berkata:“Manusia akan mengakhiri hidupnya…

Jumat, 25 Maret 2011

22 Perkara Yang Membatalkan Amalan Seseorang


Sesungguhnya kebahagiaan abadi adalah di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang tidak akan didapatkan oleh seorang hamba kecuali dengan menjauhi perangi yang dianggap baik oleh sebuah jiwa akan tetapi akan menggugurkan pahala dan amalannya.
Akan tetapi wahai hamba Allah, engkau berada di atas suatu ilmu yang terkumpul untuk mu di lembaran ini yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al Kitab dan As-Sunnah sahihah :
1. Kufur dan syirik
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan perjumpaan di hari akhirat, maka gugurlah amalan-amalan mereka, dan tidaklah mereka diberi balasan kecuali dengan apa yang telah mereka perbuat (al A’raf:174) dan juga firman-Nya ” dan telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, jika kamu berbuat syirik, niscaya gugurlah amalan-amalanmu dan tentulah kamu menjadi orang yang merugi ” (az Zumar: 65)
2. Murtad
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala : ” Barangsiapa yang murtad diantara kalian dari agamanya kemudian mati dakan keadaan kafir, mereka itulah yang gugur amalan-amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka adalah penghuni neraka serta kekal di dalamnya.” (Al Baqarah : 217)
3. Nifaq dan Riya’
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam” sesungguhnya dari yang saya takutkan terhadapmu adalah syirik kecil, yaitu riya“. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (dalam sebuah hadits qudsi) pada hari kiamat, “Jika Allah memberi balasan kepada manusia dari amalan-amalan. Maka pergilah kalian kepada amalan yang kamu berbuat ria di dunia, maka lihatlah apakah kalian mendapatkan padanya pahala” (dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan al Baghawi dari hadits Mahmud bin Labid dengan sanad shahih menurut syarat Imam Muslim)
5. Mengungkit-ngungkit pemberian
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala ” Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian gugurkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebut (pemberian) dan menyakiti (hati penerima) (Al Baqarah : 264).
Dan dari Abu Umamah Radiyallahu ‘anhu berkata Nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda: ” Tiga perkara yang Allah tidak akan terima penolakan dan penebusan yaitu orng yang durhaka kepada orang tua, pengungkit-ngungkit pemberian dan orang yang mendustakan takdir“ (dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dan Thabrany dengan sanad hasan)
6. Mendustakan Takdir
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam “Kalau seandainya Allah mengadzab penduduk langit dan bumi niscaya dia akan mengadzabnya sedang Dia tidak sedikitpun berbuat dzalim terhadap mereka, dan seandainya Dia merahmati mereka niscaya rahmat-Nya lebih baik dari amalan-amalan mereka. Seandainya seseorang menginfaqkan emas di jalan Allah sebesar Gunung Uhud, tidaklah Allah akan menerima infaq tersebut darimu sampai engkau beriman dengan takdir, dan ketahuilah bahwa apa yang (ditakdirkan) menimpamu tidak akan menyelisihimu, sedang apa yang (ditakdirkan) tidak menimpamu maka tida akan menimpamu, kalau seandainya engkau mati dalam keadaab mengimanai selalin ini (tidak beriman dengan takdir), niscaya engkau masuk neraka (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dan Ahmad, hadits ini shahih)
7. Meninggalkan shalat Ashr
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : “Orang yang meluputkan dari shalat ashar maka seolah-olah dia kehilangan keluarga dan hartanya (yakni tinggal sendirian tanpa harta dan keluarga), (Dari hadits Ibnu Umar, mutafaq ‘alaihi), dan juga sabda beliau “Barangsiapa meninggalkan shalat ashr maka sungguh gugurlah amalannya” (Bukhari dari hadits Buraidah)
8. At Ta’ly atas Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Sesungguhnya seseorang yang berkata, Allah tidak akan mengampuni terhadap si fulan, maka Allah berkata, Barangsiapa beranggapan atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan, maka sungguh Aku telah mengampuni si fulan, dan engkau telah menggugurkan amalanmu, atau sebagaimana beliau katakan (dikelurakan oleh Muslim dari hadtis Jundub bin Abdullah Radhiyallu anhu) At Ta’ly atas Allah yaitu : berkata tentang Allah tanpa ilmu, menyepelekan luasnya rahmat Allah dan bersumpah bahwa Allah tidak akan mengampuni terhadap seseorang.
9. Menyelisihi Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam baik ucapan maupun amalan
Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala : ” Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian angkat suara-suaramu diatas suara Nabi dan jangan kalian mengeraskan suara kepadanya layaknya seorang diantara kalian terhadap yang lainnya, sehingga akan gugurlah amalan-amalan kalian dalam keadaan kalian tidak menyadari” (Al Ahzab : 2). Dan firman-Nya : ” Hai orang-orang beriman taatlah Allah dan Rasul-Nya dan jangan kalian gugurkan amalan-amalan kalian (Muhammad: 33)
10. Berbuat bid’ah dalam agama
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan kami ini, sesuatu yang tidak ada petunjuk agama padanya, maka itu tertolak (Mutafaq ‘alaih dari hadtis Aisyah radhiyallahu ‘anha) dalam riwayat Muslim disebutkan ” Barangsiapa beramal dengan amalan yang bukan perintah kami maka itu tertolak “
11. Melanggar Ketentuan-ketentuan Allah di waktu sepi
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku, mereka datang pada hari kiamat dengan kebaikan semisal gunung putih, kemudian Allah jadikan seperti halnya debu yang berterbangan”, berkata Tsauban, ” Wahai Rasulullah, sifatkanlah tentang keadaan mereka kepada kami, dan supaya kami tidak termasuk dari mereka, dan sedang kami da;a, keadaan tidak memengetahui”, Beliau bersabda “Adapun mereka itu dari saudara kalian seagama, dan dari bangsa kalian, mereka mengambil bagian dari waktu malam sebagaimana juga kalian mengambilnya, akan tetapi mereka itu adalah sebuah kaum yang jika melewati larangan Allah mereka melanggarnya (Dikeluarkan oleh ibnu MAjah dari hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh al Mundziri dan Al Baushiri)
12. Gembira dan Bahagia dengan terbunuhnya seorang mukmin
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Barangsiapa membunuh seorang mukmin dan berharap akan terbunuhnya maka Allah tidak akan menerima darinya penolakan (adzab) ataupun penebusan. (dikelurkan oleh Abu Dawud dari hadits Ubadah bin shamit, hadits ini shahih).
13. Menetap di negeri-negeri kafir
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : ” Allah Azza wajalla tidak akan menerima amalan dari seorang musyrik yang masuk Islam sampai memisahkan musyrikin kepada muslimin” (Dikelurkan oleh Nasai dan Ahmad dari Hadits Mu’awiya bin Hayidah radhiyallahu ‘anhu dengan sanad hasan)
14 Mendatangi dukun dan tukang ramal
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam : ” Barangsiapa mendatangi tukang ramal kemudian menanyakan tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama 40 hari (dikeluarkan oleh Muslim) dan sabdanya ” Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang dikatakan maka sungguh telah kafir kepada yang diturukan kepada Muhammad (Al Qur’an), (dikelurkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad, dari hadits Abu Hurairah, sahih)
15. Durhaka kepada kedua orang tua
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Tiga golongan yang Allah tidak akan terima dari mereka penolakan atau penebusan yaitu orang yang durhaka kepada kedua orang tua, pengungkit pemberian, dan pendusta takdir” (telah berlalu takhrijnya dipoint no.5)
16. Pecandu Khamar
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Barangsiapa meminum khamar Allah tidak akan terima darinya shalat empat puluh hari, apabila dia taubat, maka Allah terima taubatnya, apabila dia kembali berbuat maka Allah tidak akan terima lagi shalatnya selama 40 hari, dan apabila dia taubat maka Allah tidak akan terima taubatnya, dan Allah akan memberinya minum dari sungai Khibal”, dikatakan kepadanya “wahai Abu Abdiraman , apa sungai khibal tersebut, dia berkata : yaitu sungai dari nanah penduduk neraka (dikeluarkan oleh Tirmidzi dari hadits Abdullah bin Umar, dan dia shahih), dan sabda Beliau Shalallahu Alaihi Wa Sallam “Pecandu khamr, jika mati maka akan menemui Allah seperti penyembah berhala (dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari hadits Ibnu Abbas, dan baginya ada syahid (penguat) dari hadits Abu Hurairah dikeluarkan oleh Ibnu Majah, secara keseluruhannya derajatnya hasan)
Berkata Ibnu Hiban : Serupa makna khabar ini dengan ” Barangsiapa bertemu Allah dari pecandu khamr dengan anggapan halal meminumnya, seperti penyembah berhala, karena kesamaan keduanya dalam kekufuran.
17. Berkata dusta dan beramal dengannya
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada kepentingan bagi Allah seseorang meninggalkan makan dan minumnya ” (dikeluarkan oleh Bukhari)
18. Memelihara anjing kecuali anjing yang dididik untuk pertanian atau berburu
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Barangsiapa memelihara anjing, maka akan berkurang amalannya setiap hari sebear satu qiroth (dalam riwayat lain dua qiroth), kecuali anjing untuk menjaga kebun atau anjing penjaga ternak (mutafaq alaihi, dan riwayat kedua dari muslim)
19. Budak yang lari dari tuannya, tanpa karena takut atau keletihan dalam pekerjaan, sampai dia kembali kepada tuannya
20. Istri yang durhaka sampai kembali taat terhadap suaminya.
Berkata Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Dua golongan yang sungguh sangat merugi yaitu seorang hamba yang lari dari tuannya sampai kembali kepada mereka dan seorang istri yang maksiat terhadap suaminya sampai dia kembali kepadanya (dikeluarkan oleh Hakim dan Thabrany dalam as shaghir, shahih)
21. Pemimpin yang dibenci kaumnya
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Tiga golongan yang sangat merugi yaitu seorang budak yang lari dari tuannya sampai dia kembali, seorang wanita yang bermalam dengan suaminya dalam keadaan (suami) murka padanya, dan seorang pemimpin yang dibenci kaumnya” (Dikeluarkan dan dihasankan oleh Tirmidzi)
Berkata Tirmidzi : ” Sekelompok orang dari ahli ilmu membenci seseorang untuk memimpin sebuah kaum, yang mereka benci padanya. Apabila imam itu tidak dzalim, maka sesungguhnya dosa itu atas yang membencinya. Dinukilkan dari Manshur: Kami bertanya tentang perkara imam, maka dikatakan kepada kami: Pemimpin-pemimpin yang dzalim itu sangat menyusahkan, dan adapun yang menegakkan sunnah maka sesungguhnya dosa bagi siapa yang membencinya.”
22. Seorang muslim memboikot saudaranya muslim tanpa udzur syar’ie
Berdasarkan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam ” Dibukakan pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis dan diampunkan bagi setiap hamba yang tidak mensekutukan Allah dengan sesuatupun kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya ada kebencian” Beliau berkata, ” perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun, perhatikanlah keduanya oleh kalian sampai mereka kembali rukun.” (Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah)
Wahai saudara seislam, ini adalah perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan amalan-amalan, berada di depanmu. Dan bahayanya terhadap agamamu sangat jelas, maka jauhilah perkara tersebut dan berhati-hatilah darinya dan hendaklah hatimu tetap berharap kepada sesuatu yang memberi manfaat kepadamu di dunia dan akhirat, karena setiap hati butuh kepada tarbiyah supaya suci dan terus bertambah suci hingga sampai usia lanjut sempurnalah dan baiklah ia.
Ya Allah yang membolak-balikan hati tetapkanlah hati-hati kami atas agama-Mu, dan janganlah Engkau palingkan kami meskipun hanya sekejap saja.

Keutamaan Sholat Tahajjud


Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakansholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.
Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)
Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .
Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )
Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”
Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )
Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.
Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)
Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)
Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.

Kisah Perjuangan Asiah Istri Fir'aun

Alkisah di negeri Mesir, Fir'aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya
bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir'aun kejam itu hidup sendiri tanpa
pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga
Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya.

Fir'aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah.
Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah :
"Sudikah anakda menikahi Fir'aun ?"
"Bagaimana saya sudi menikahi Fir'aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang
ingkar kepada Allah ?"
Haman kembali pada Fir'aun. Alangkah marahnya Fir'aun mendengar kabar penolakan
Siti Asiah.
"Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biar
aku sendiri yang menghukumnya !"

Fir'aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah. Setelah
disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul
kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir'aun kemudian membawa Siti Asiah ke
penjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang
nyaris tak berdaya, Fir'aun berkata:"He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang
baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau
boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima
lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua
orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku,
maka aku akan memerintahkan para algojo agar membakar hidup-hidup kedua
orangtuamu itu, tepat dihadapanmu."

Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir'aun. Dengan
mengajukan beberapa syarat :
Fir'aun harus membebaskan orangtuanya.
Fir'aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap
perabotannya.
Fir'aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya.
Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir'aun. Hadir dalam acara-acara tertentu,
tapi tak bersedia tidur bersama Fir'aun.
Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah rela mati
dibunuh bersama ibu dan bapaknya.

Akhirnya Fir'aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah. Fir'aun
lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua
Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal dalam kemewahan Istana
bersama-sama Fir'aun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah
agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan
Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang
kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir'aun. Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah,
Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis
yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Fir'aun.

Fir'aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil
amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang
bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada Allah
SWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil
merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir'aun yang kafir.
Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir'aun dengan Hazaqil, disaat
Fir'aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan
keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman
tersebut.

Mendengar penentangan Hazaqil, Fir'aun menjadi marah. Fir'aun jadi bisa
mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir'aun lalu menjatuhkan hukuman mati
kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab
yakin dirinya benar.

Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon
kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat
sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung
kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada
anak-anaknya yang masih kecil.

Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir pembicaraan
mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa iapun
menyembunyikan ketaatannya dari Fir'aun. Barulah keduanya menyadari, bahwa
mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir'aun, tanpa
sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya
Masyitoh berkata : "Dengan nama Allah binasalah Fir'aun."

Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir'aun merasa tersinggung lalu mengancam
akan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar
mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir'aun.
Saat Masyitoh menghadap Fir'aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya
adalah : "Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku,
sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini
?"

"Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya
menguasai segala alam dan isinya."jawab Masyitoh dengan berani.
Mendengar jawaban Masyitoh, Fir'aun menjadi teramat marah, sehingga
memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat
minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan
hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan
dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama kedua anaknya,
Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir'aun adalah
Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir'aun sebagai
Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua
anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh
kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu
ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu.
Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, "Jangan takut dan
sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah
SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita."

Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidih
itu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat
itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali
berisi minyak mendidih itu.

Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir'aun dengan kata-kata
yang pedas. Iapun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Fir'aun, dan lebih
memilih keadaan mati seperti Masyitoh.

Mendengar ucapan Isterinya, Fir'aun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti
Asiah telah gila. Fir'aun kemudian telah menyiksa Siti Asiah, tak memberikan
makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal dunia.
Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa kepada Allah
SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman,
ketika ia berkata : "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi Mu
dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan
selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)